Ratusan Sopir Angkot Geruduk Surabaya, Tolak Trans Jatim Koridor II
- account_circle ADK
- calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Puluhan armada angkot Front ASAM diberangkatkan menuju Surabaya untuk menyampaikan aspirasi penolakan terhadap rencana operasional Trans Jatim Koridor II di Malang Raya, Rabu (29/7/2026). (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Ratusan sopir angkutan kota (angkot) yang tergabung dalam Front Asosiasi Sopir Angkot Malang (Front ASAM) berangkat ke Surabaya, Rabu (29/7/2026), guna menyampaikan penolakan terhadap rencana pengoperasian Trans Jatim Koridor II di wilayah Malang Raya.
Sekitar 100 peserta aksi berkumpul di kawasan Stasiun Kota Malang sejak pukul 08.00 WIB sebelum bergerak menuju Gedung DPRD Kota Malang di Jalan Tugu. Rombongan dipimpin Ketua Front ASAM, Bambang Kurniawan, dengan membawa sekitar 20 armada angkot dari berbagai jalur serta tiga kendaraan pribadi.
Di depan Gedung DPRD Kota Malang, peserta aksi menggelar seremoni pemberangkatan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sekitar pukul 08.55 WIB, rombongan bertolak menuju Surabaya dengan pengawalan Satlantas Polresta Malang Kota.
Massa dijadwalkan menyampaikan aspirasi di DPRD Jawa Timur, Dinas Perhubungan Jawa Timur, dan Kantor Gubernur Jawa Timur. Mereka meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur menunda operasional Trans Jatim Koridor II hingga dilakukan kajian yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk organisasi sopir angkot.
Ketua Front ASAM, Bambang Kurniawan, mengatakan pihaknya tidak menolak pengembangan transportasi umum modern. Namun, menurutnya, kebijakan tersebut harus mempertimbangkan keberlangsungan mata pencaharian ribuan sopir angkot di Malang Raya.
“Kami tidak menolak kemajuan transportasi umum. Yang kami tolak adalah jika Trans Jatim Koridor II dioperasikan tanpa mempertimbangkan nasib ribuan sopir angkot yang selama puluhan tahun melayani masyarakat. Pemerintah seharusnya mengajak kami berdialog terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan yang berdampak langsung terhadap mata pencaharian kami,” ujarnya.
Bambang menyebut hingga kini belum ada kepastian mengenai skema perlindungan maupun solusi bagi para sopir angkot apabila layanan Trans Jatim Koridor II mulai beroperasi. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan kekhawatiran karena angkot masih menjadi sumber penghasilan utama ribuan keluarga.
Ia menegaskan, kedatangan Front ASAM ke Surabaya bertujuan menyampaikan aspirasi agar pemerintah memperhatikan dampak sosial dan ekonomi dari kebijakan transportasi tersebut.
Front ASAM juga meminta adanya skema transisi yang jelas agar pengembangan transportasi massal tetap berjalan tanpa menghilangkan mata pencaharian para pengemudi angkutan kota.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar