Kasus TBC di Surabaya Tembus 4.191, Lilik Hendarwati Minta Warga Waspada Tanpa Panik
- account_circle WNZ
- calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Lilik Hendarwati mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap TBC melalui deteksi dini, edukasi kesehatan, dan dukungan kepada pasien. (Foto: Dok. Aspri)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SURABAYA, Memodaily.id – Sebanyak 4.191 kasus Tuberkulosis (TBC) ditemukan di Kota Surabaya selama lima bulan pertama tahun 2026. Angka tersebut menjadi perhatian serius mengingat estimasi kasus TBC di Kota Pahlawan sepanjang tahun ini mencapai 11.412 kasus.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Surabaya, Lilik Hendarwati, mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan. Menurutnya, meningkatnya jumlah kasus yang terdeteksi juga dapat menjadi indikator bahwa upaya skrining dan penemuan kasus secara dini semakin aktif dilakukan.
“Meningkatnya temuan kasus TBC di Surabaya harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Namun masyarakat tidak perlu panik. Bertambahnya angka kasus juga bisa menunjukkan bahwa skrining dan penemuan dini semakin aktif dilakukan, sehingga penderita dapat segera diobati dan risiko penularan bisa ditekan,” ujar Lilik, Jumat (12/6/2026).
Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur itu menegaskan bahwa penanganan TBC tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan. Menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas sektor agar upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tersebut berjalan lebih efektif.
“Saya mendorong adanya sinergi dan kolaborasi agar penanganan TBC tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi juga melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT/RW, sekolah, tempat ibadah hingga dunia usaha,” katanya.
Lilik juga menyoroti masih kuatnya stigma negatif terhadap penderita TBC. Kondisi tersebut kerap membuat pasien enggan memeriksakan diri atau menjalani pengobatan secara terbuka.
Karena itu, ia menilai penguatan literasi dan edukasi kesehatan harus terus dilakukan agar masyarakat memahami gejala TBC, pentingnya pemeriksaan dini, serta kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas.
“Literasi dan edukasi tentang gejala TBC, pentingnya pemeriksaan dini, serta kepatuhan minum obat harus terus diperkuat agar tidak ada lagi stigma yang membuat pasien takut berobat. Di masyarakat kita masih banyak stigma buruk terhadap penyandang TBC, padahal penyakit ini bisa dicegah dan disembuhkan,” tegasnya.
Menurut Lilik, TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila terdeteksi lebih awal dan pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga selesai. Karena itu, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk membantu proses pemulihan pasien.
“TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan apabila dideteksi lebih awal dan diobati secara teratur. Jangan mengucilkan penderita, tetapi rangkul dan dukung mereka agar sembuh. Dengan gotong royong dan meningkatnya kesadaran masyarakat, saya optimistis Surabaya dapat menekan penyebaran TBC dan mewujudkan kota yang lebih sehat bagi seluruh warganya,” tuturnya.
Selain mengajak masyarakat lebih peduli terhadap pencegahan TBC, Lilik juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada Pemerintah Kota Surabaya. Di antaranya memperluas skrining dan pelacakan kontak di kawasan padat penduduk, memastikan ketersediaan obat dan layanan pengobatan yang mudah diakses, memberikan pendampingan serta bantuan gizi bagi pasien kurang mampu, hingga memperkuat koordinasi antara puskesmas, rumah sakit, dan kader kesehatan.
“Yang tidak kalah penting adalah memastikan seluruh pasien dapat menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Sebab keberhasilan pengobatan menjadi salah satu kunci utama untuk memutus rantai penularan TBC di masyarakat,” pungkasnya.
- Penulis: WNZ
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar