Ayam Kampung Jadi Andalan Baru Blora, DP4 Gandeng UGM
- account_circle FRS
- calendar_month Selasa, 25 Agu 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala DP4 Blora Ngaliman bersama Sekretaris DP4 Lilik Setyawan membahas rencana pengembangan ayam kampung. (Foto: FRS)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BLORA, Memodaily.id – Pemerintah Kabupaten Blora menyiapkan pengembangan ayam kampung sebagai salah satu potensi usaha peternakan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam penyusunan konsep pengembangannya.
Kepala DP4 Kabupaten Blora, Ngaliman, mengatakan program tersebut merupakan tindak lanjut atas gagasan Bupati Blora Arief Rohman. Pengembangan akan diarahkan pada ayam kampung jenis pedaging.
“Berkaitan dengan program ayam kampung ini memang idenya Bapak Bupati Arief Rohman. Bagaimana arahan dari Pak Bupati ini kemudian kami tindak lanjuti, salah satunya dengan menyiapkan konsep pengembangan ayam kampung,” kata Ngaliman.
Kerja sama dengan UGM mulai dilakukan. Sejumlah pihak dari perguruan tinggi tersebut telah datang ke Blora untuk membahas konsep pengembangan ayam kampung.
Sekretaris DP4 Blora, Lilik Setyawan, mengatakan peluang pengembangan ayam kampung cukup terbuka karena kebutuhan pasar lokal tergolong besar. Sejumlah kuliner khas Blora menggunakan ayam kampung, tetapi kebutuhan bahan bakunya masih didatangkan dari luar daerah.
“Di Blora itu kuliner-kulinernya kan beberapa memang yang khas menggunakan ayam kampung, misalnya opor. Ternyata kuliner itu mengambil ayam kampung dari luar daerah,” ujar Lilik.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi peluang untuk membangun rantai usaha ayam kampung dari sektor peternakan hingga pemasaran dan kuliner. Kebutuhan bahan baku diharapkan dapat dipenuhi peternak lokal.
Tahap awal, DP4 akan memetakan peternak ayam kampung yang sudah ada di Blora berdasarkan skala usaha. Pemetaan mencakup peternak pemula, peternak kecil, hingga peternak yang telah berkembang.
“Ini awal-awal kita identifikasi peternak-peternak ayam kampung yang sudah ada di Blora. Kemudian nanti dilakukan FGD, kira-kira di sisi mana pengembangannya bisa dilakukan,” katanya.
DP4 tidak menyiapkan satu pola pengembangan untuk seluruh peternak. Dukungan akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing, termasuk peluang bagi anak muda dan ibu rumah tangga untuk mengembangkan usaha peternakan skala rumahan.
“Bisa jadi nanti peternak milenial, anak-anak muda yang ingin punya usaha di bidang pertanian. Bahkan ada juga ibu-ibu, karena peternakan banyak yang rumahan,” ujar Lilik.
Meski demikian, DP4 belum menentukan penerima manfaat maupun bentuk bantuan. Keduanya masih menunggu hasil identifikasi dan kajian.
Dari sisi pembiayaan, DP4 tengah menjajaki dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Pada 2025, DP4 sebelumnya memperoleh dukungan CSR untuk pengembangan pertanian organik.
Untuk 2026, pengembangan ayam kampung menjadi salah satu tema yang akan diusulkan, termasuk dalam kaitannya dengan pengentasan kemiskinan. Rencana nilai pengajuan CSR sekitar Rp1 miliar, tetapi hingga kini belum diajukan secara resmi dan belum dapat dipastikan terealisasi.
“Yang CSR tahun 2025 itu berhasil untuk pertanian organik. Nah ini kita ajukan yang 2026. Memang belum mengajukan, salah satunya kita pakai tema pengentasan kemiskinan,” kata Lilik.
DP4 Blora selanjutnya akan mematangkan konsep melalui pemetaan peternak, pembahasan bersama UGM, serta kajian kebutuhan pasar dan rantai usaha ayam kampung.
- Penulis: FRS
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar