Lucy Kurniasari Desak RS Ramah Anak Lengkapi Layanan Dokter Tumbuh Kembang
- account_circle RFR
- calendar_month Senin, 29 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota BURT DPR RI Lucy Kurniasari saat menyoroti pentingnya ketersediaan dokter spesialis tumbuh kembang anak dalam kunjungan kerja ke RS Siloam Mataram. (Foto: DPR RI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MATARAM, Memodaily.id – Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI, Lucy Kurniasari, mendorong rumah sakit yang mengusung konsep ramah anak untuk melengkapi layanan dokter spesialis tumbuh kembang anak. Menurutnya, ketersediaan tenaga medis di bidang tersebut masih terbatas, sehingga banyak keluarga kesulitan memperoleh layanan yang dibutuhkan.
Pernyataan itu disampaikan Lucy saat kunjungan kerja BURT DPR RI ke RS Siloam Mataram, Nusa Tenggara Barat, Minggu (28/6/2026). Ia menilai konsep rumah sakit ramah anak akan semakin optimal jika didukung layanan tumbuh kembang yang memadai.
Lucy mengungkapkan pengalamannya saat mendampingi cucunya yang mengalami cerebral palsy akibat infeksi pada trimester ketiga kehamilan. Kondisi tersebut baru diketahui ketika sang cucu berusia dua tahun.
“Saya tertarik dengan konsep rumah sakit ramah anak, tapi saya belum melihat di sini ada dokter spesialis tumbuh kembang anak. Cucu saya ada delapan, lalu cucu saya yang keempat mengalami cerebral palsy akibat infeksi pada trimester ketiga kehamilan. Kondisinya baru disadari saat usia dua tahun,” ujar Lucy.
Ia mengaku sempat kesulitan mencari dokter spesialis tumbuh kembang karena jumlahnya sangat terbatas. Saat itu, layanan yang ditemukannya berada di sebuah rumah sakit di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, dengan antrean pasien hingga satu tahun.
“Cari dokter tumbuh kembang setengah mati karena ternyata sangat jarang. Waktu itu adanya di rumah sakit daerah Kelapa Gading dan antreannya tahunan,” katanya.
Menurut Lucy, layanan tumbuh kembang tidak hanya sebatas pemeriksaan dokter, tetapi juga mencakup terapi berkelanjutan serta penyediaan alat bantu sesuai kebutuhan setiap anak. Karena itu, ia berharap layanan tersebut dapat diperluas agar anak-anak dengan gangguan atau keterlambatan tumbuh kembang memperoleh penanganan sejak dini.
Lucy juga menilai kebutuhan masyarakat terhadap layanan tumbuh kembang cukup tinggi. Berdasarkan pengalamannya, terdapat sekitar 100 pasien yang menjalani penanganan, termasuk pasien yang datang dari luar daerah seperti Lombok.
“Saya melihat kasus tumbuh kembang itu banyak sekali. Waktu itu ada kira-kira 100 pasien, bahkan banyak juga yang dari Lombok. Saya melihat potensinya besar. Kalau tidak ada dokter spesialis tumbuh kembang di sini, sayang sekali. Mungkin ke depan bisa ditambah layanan tumbuh kembang,” tuturnya.
Sorotan tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam pemerataan layanan kesehatan anak di Indonesia. Keterbatasan dokter spesialis tumbuh kembang di berbagai daerah membuat sebagian keluarga harus bepergian ke kota besar dan menunggu dalam waktu lama untuk mendapatkan penanganan.
- Penulis: RFR
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar