Netty Soroti Kualitas Kerja Meski Pengangguran Turun
- account_circle memodaily
- calendar_month Jumat, 7 Agu 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menegaskan penurunan angka pengangguran harus diikuti penyediaan pekerjaan yang layak, produktif, dan memiliki perlindungan sosial. (Foto: DPR RI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Memodaily.id – Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berfokus pada penurunan angka pengangguran. Menurutnya, keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan harus diukur dari tersedianya pekerjaan yang layak, produktif, serta memberikan perlindungan sosial bagi para pekerja.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Mei 2026 turun menjadi 7,22 juta orang atau berkurang sekitar 24 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
“Penurunan angka pengangguran merupakan sinyal positif bahwa perekonomian dan pasar kerja terus bergerak ke arah yang lebih baik. Capaian ini patut diapresiasi sebagai hasil kerja bersama,” kata Netty dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).
Meski demikian, Netty menegaskan bahwa jumlah orang yang bekerja bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Pemerintah juga harus memastikan kualitas pekerjaan yang tersedia mampu memberikan kepastian penghasilan dan perlindungan bagi pekerja.
“Kita tidak hanya membutuhkan lebih banyak lapangan kerja, tetapi juga pekerjaan yang layak, produktif, memiliki kepastian penghasilan, serta memberikan pelindungan sosial bagi para pekerja,” ujarnya.
Netty juga menyoroti masih besarnya jumlah pekerja di sektor informal yang belum memperoleh jaminan sosial maupun kepastian kerja. Ia mendorong percepatan transformasi menuju lapangan kerja formal agar para pekerja memiliki perlindungan yang lebih baik.
Menurutnya, pekerja informal perlu memperoleh akses terhadap program jaminan sosial, termasuk BPJS Ketenagakerjaan, sebagai jaring pengaman ketika menghadapi risiko kecelakaan kerja maupun saat memasuki usia lanjut.
Selain itu, Netty menilai tingginya angka pengangguran usia muda masih menjadi tantangan serius. Ia mendorong penguatan sinergi antara dunia pendidikan, pelatihan vokasi, dan industri agar kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kita perlu memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri melalui pelatihan berbasis kompetensi, magang, hingga sertifikasi,” pungkasnya.
- Penulis: memodaily


Saat ini belum ada komentar