BINUS Dorong AI untuk Kepentingan Bangsa, Bukan Sekadar Ikuti Tren
- account_circle RFR
- calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Dewan Guru Besar BINUS University, Prof. Harjanto Prabowo, menyampaikan gagasan AI for Life dalam peringatan 45 tahun BINUS University di Jakarta. (Foto: RFR)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Memodaily.id – Memperingati 45 tahun berdiri, BINUS University menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan bangsa dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.
Pesan tersebut disampaikan Dewan Guru Besar BINUS University melalui gagasan AI for Life, sebuah konsep yang menempatkan AI sebagai teknologi yang berpusat pada manusia (human-centered technology).
Ketua Dewan Guru Besar BINUS University, Prof. Harjanto Prabowo, mengatakan peringatan 45 tahun BINUS menjadi momentum bagi dunia akademik untuk memperkuat kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia.
“Di usia 45 tahun BINUS, kami bersyukur atas perjalanan yang telah dilalui dan menghargai seluruh kontribusi yang telah membentuk BINUS hingga hari ini. Namun, rasa syukur itu juga harus diwujudkan melalui komitmen untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi Indonesia,” ujar Harjanto, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi atas berbagai tantangan yang muncul di era transformasi digital.
Melalui konsep AI for Life, BINUS menegaskan bahwa AI harus dimanfaatkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikan peran manusia.
BINUS menilai pembahasan mengenai AI selama ini masih banyak berfokus pada aspek aplikasi dan perangkat lunak. Padahal, teknologi tersebut telah berkembang menjadi isu strategis yang memengaruhi sektor pendidikan, industri, tata kelola pemerintahan, hukum, hingga geopolitik.
Karena itu, Dewan Guru Besar BINUS mengusung pendekatan lintas disiplin dalam merumuskan AI for Life. Dari sisi teknologi, Indonesia dinilai perlu bertransformasi dari sekadar AI adoption menuju AI transformation, yakni memanfaatkan AI sebagai pencipta nilai ekonomi dan sosial.
Transformasi tersebut, menurut BINUS, harus didukung kesiapan sumber daya manusia, penguatan literasi digital, tata kelola data yang baik, perlindungan privasi, serta kepemimpinan yang adaptif terhadap perubahan.
Di sektor bisnis dan industri kreatif, AI dipandang bukan sebagai ancaman bagi kreativitas manusia, melainkan mitra yang dapat mempercepat inovasi dan meningkatkan daya saing. Namun demikian, kreativitas tetap bertumpu pada pengalaman, empati, konteks budaya, serta penilaian manusia yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Sementara itu, pada aspek hukum dan kebijakan publik, BINUS menilai regulasi yang mampu mengimbangi perkembangan AI menjadi kebutuhan mendesak. Isu kedaulatan data, keamanan siber, dan kepastian hukum disebut akan menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing Indonesia di era kecerdasan buatan.
Harjanto menegaskan bahwa seluruh pengembangan AI harus tetap berpihak kepada kepentingan manusia.
“BINUS lahir dengan semangat Bina Nusantara. Karena itu, setiap pemikiran dan inovasi yang kami hadirkan harus kembali kepada kontribusi bagi bangsa. AI for Life adalah ajakan agar kita tidak hanya mengejar kemajuan teknologi, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tersebut membawa manfaat nyata bagi manusia dan Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan, kepemimpinan dan kolaborasi menjadi faktor penting agar AI tidak hanya menjadi lompatan teknologi, tetapi juga instrumen pembangunan yang berkelanjutan.
“Teknologi tidak dapat berdiri sendiri tanpa arah, nilai, dan tanggung jawab. Perguruan tinggi memiliki peran penting membangun literasi, etika, riset, talenta, dan kebijakan agar AI benar-benar menjadi kekuatan untuk kehidupan,” pungkasnya.
Melalui gagasan AI for Life, BINUS berharap pemanfaatan AI dapat meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat industri, mendukung pengambilan kebijakan berbasis data, memperluas akses terhadap berbagai peluang, serta menghadirkan manfaat sosial yang lebih merata bagi masyarakat.
- Penulis: RFR
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar