Sumber Air Clumprit Merjosari Berpotensi Layani 8.200 Pelanggan, Pemkot Malang Siapkan Koneksi Jaringan PDAM
- account_circle ADK
- calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama Kapolresta Malang Kota dan Ketua DPRD Kota Malang meninjau lokasi Sumber Air Clumprit di Merjosari, Jumat (9/10/2026), dalam rangkaian kegiatan World Cleanup Day (WCD) 2026. (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Pemerintah Kota Malang mulai membidik optimalisasi Sumber Air Clumprit di kawasan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, sebagai salah satu alternatif untuk memperkuat pasokan air bersih bagi masyarakat. Salah satu sumber air yang ditinjau diperkirakan berpotensi melayani sekitar 8.200 pelanggan apabila infrastruktur pendukung dan jaringan distribusinya telah terkoneksi dengan Perumda Air Minum Tugu Tirta.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, meninjau kawasan sumber air tersebut dalam rangkaian kegiatan World Cleanup Day (WCD) 2026, Jumat (9/10/2026). Kegiatan itu juga diisi dengan penanaman pohon serta peninjauan sejumlah titik sumber air dan saluran Sungai Metro.
Dalam peninjauan tersebut, Wahyu menilai keberadaan sumber air di Merjosari menjadi potensi yang perlu dioptimalkan. Pasalnya, selama ini pemenuhan kebutuhan air bersih Kota Malang masih bergantung pada sumber air di wilayah sendiri maupun pasokan dari luar daerah, termasuk Kabupaten Malang dan Kota Batu.
“Ini satu keberuntungan yang sebetulnya kita dapatkan. Karena terkait dengan sumber air ini, kita selama ini banyak tergantung tidak hanya sumber air yang ada di dalam kota, tetapi malah di kabupaten ataupun di Kota Batu,” ujar Wahyu.
Ia menjelaskan, salah satu titik sumber air yang ditinjau diperkirakan mampu melayani sekitar 8.200 pelanggan. Namun, potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal lantaran belum terhubung dengan jaringan distribusi PDAM Kota Malang.
“Apabila ini kita optimalkan, karena ini belum ada terkoneksi dengan jaringan PDAM yang ada. Ini juga sekaligus dengan menanam pohon untuk menjaga agar kualitas dari sumber air ini tetap terjaga,” jelasnya.
Menurut Wahyu, pengembangan sumber air Merjosari diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Kota Malang terhadap pasokan air dari luar wilayah. Untuk merealisasikannya, pemerintah bersama Perumda Tugu Tirta akan mendorong pembangunan jaringan penghubung menuju jaringan distribusi yang sudah tersedia.
Wahyu menyebut, berdasarkan laporan Direktur Utama Perumda Tugu Tirta, rencana tersebut telah mendapat respons dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU), termasuk dukungan pembangunan jaringan yang diperlukan.
“Dari laporan Dirut Perumda Tugu Tirta, dari Kementerian PU nanti juga akan membangun terkait dengan jaringan tersebut agar ada koneksi dari Sumber Merjosari ke jaringan PDAM Kota Malang,” ungkapnya.
Di balik potensi pasokan air tersebut, masih terdapat sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan. Salah satunya menyangkut kondisi bangunan penangkap mata air atau broncaptering yang dinilai perlu mendapatkan rehabilitasi.
Wahyu mengatakan, saat peninjauan ditemukan kondisi bagian dalam bangunan yang kotor. Padahal, bangunan tersebut disebut memiliki kedalaman yang dapat mencapai sekitar empat meter, tetapi kondisi yang terlihat di lapangan tidak menunjukkan kedalaman air hingga satu meter.
“Padahal kedalaman dari broncaptering ini sebetulnya bisa sampai empat meter. Tapi kita lihat tadi ini kan tidak sampai satu meter,” katanya.
Karena itu, rencana penanganan tidak hanya berfokus pada pembangunan jaringan distribusi, tetapi juga perbaikan infrastruktur penangkap mata air agar potensi sumber air dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Wahyu menegaskan, langkah yang disiapkan adalah merehabilitasi bangunan serta membangun jaringan penghubung menuju pipa-pipa distribusi PDAM yang sudah ada.
“Dari Perumda Tugu Tirta, dari Kementerian PU dan sudah ada lampu hijau, nanti akan merehabilitasi dan membangun jaringan agar bisa ada koneksi dari Sumber Air Merjosari ke pipa-pipa jaringan PDAM yang ada saat ini,” tegasnya.
Meski demikian, potensi layanan bagi 8.200 pelanggan tersebut masih bergantung pada realisasi pembangunan jaringan, perbaikan infrastruktur, serta kesiapan pengelolaan sumber air. Angka tersebut merupakan perkiraan kapasitas yang disampaikan wali kota, bukan jumlah pelanggan yang sudah menerima layanan.
Persoalan lain yang menjadi perhatian Pemkot Malang adalah status kepemilikan sejumlah titik sumber air. Wahyu menjelaskan, beberapa sumber yang telah dilengkapi bangunan penangkap mata air sudah berstatus milik PDAM. Namun, masih terdapat sumber air lain yang berada di lahan milik pribadi atau perorangan.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah akan melakukan pendekatan kepada pemilik lahan dan memberikan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga sumber air.
“Ada beberapa titik sumber yang memang masih milik pribadi atau perorangan. Nanti kita akan upayakan ada pendekatan karena sumber tersebut bisa kita jadikan satu dan kita akan bisa melayani,” ungkapnya.
Menurut Wahyu, warga sekitar selama ini juga berupaya menjaga kualitas air agar tetap dapat dimanfaatkan masyarakat. Bahkan, Ketua RW setempat telah menyampaikan masukan agar sumber air yang selama ini belum termanfaatkan dengan baik bisa dikembangkan lebih lanjut.
Namun, pengembangan tersebut membutuhkan kesepahaman dengan pemilik lahan, terutama jika kawasan sumber air akan diarahkan untuk kepentingan pelayanan publik dan konservasi lingkungan.
Selain pembangunan infrastruktur, Pemkot Malang menekankan pentingnya menjaga kawasan di sekitar sumber air. Penanaman pohon dalam rangkaian WCD 2026 menjadi salah satu langkah untuk mendukung pelestarian lingkungan dan menjaga kualitas air.
Wahyu menyebut, kawasan di sekitar mata air diharapkan dapat diarahkan menjadi lahan konservasi. Upaya tersebut dinilai penting agar kualitas dan debit air tetap terjaga, terutama apabila sumber air nantinya dimanfaatkan untuk memperkuat pasokan air bersih.
“Radius dari sumber ini kita harapkan bisa menjadi lahan konservasi agar kualitas air ini tetap terjaga, termasuk juga debit airnya bisa tetap atau bahkan lebih baik, agar debit airnya tidak turun,” ujarnya.
Terkait kondisi kawasan saat musim hujan, Wahyu mengatakan warga menyampaikan bahwa permukaan air cenderung sedikit meningkat. Hal itu dikaitkan dengan posisi wilayah yang berada di cekungan dan memiliki sejumlah titik sumber air. Berdasarkan keterangan warga yang disampaikan saat peninjauan, potensi banjir tidak menjadi persoalan utama di lokasi tersebut.
Di sisi lain, muncul pula usulan dari warga agar kawasan sumber air dapat dikembangkan sebagai wisata air. Wahyu menyatakan usulan tersebut dapat dibicarakan lebih lanjut, terutama berkaitan dengan sumber air yang masih berada di lahan milik warga.
Meski demikian, rencana pemanfaatan kawasan tetap perlu mempertimbangkan fungsi konservasi agar aktivitas di sekitar mata air tidak mengganggu kualitas maupun ketersediaan air.
Optimalisasi Sumber Air Clumprit Merjosari kini menjadi salah satu peluang bagi Kota Malang untuk memperkuat pasokan air bersih dari dalam wilayah sendiri. Namun, manfaatnya bagi masyarakat akan ditentukan oleh realisasi rehabilitasi bangunan, pembangunan jaringan distribusi, penyelesaian persoalan kepemilikan lahan, serta konsistensi perlindungan kawasan sumber air.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar