Tokoh Lintas Agama Sepakat Wujudkan Rumah Ibadah Aman bagi Perempuan
- account_circle YAT
- calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Peserta diskusi lintas agama berfoto bersama usai kegiatan di Kantor KOPPATARA bersama Anggota DPRD Jawa Timur Komisi E, Hikmah Bafaqih. (Foto: Memodaily.id/YAT)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Tokoh lintas agama, pegiat perlindungan perempuan dan anak, serta komunitas kebebasan beragama dan berkeyakinan berkumpul dalam diskusi bertajuk Ruang Aman dan Kesehatan Mental Perempuan dan Anak: Mewujudkan Rumah Ibadah yang Ramah bagi Perempuan dan Anak, Selasa (28/7/2026), di Aula KOPPATARA, Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Kegiatan yang diselenggarakan KOPPATARA Indonesia bekerja sama dengan Peace Leader Indonesia dan Ngalam Harmoni itu menjadi ruang dialog untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung kesehatan mental perempuan serta anak.
Diskusi menghadirkan Direktur KOPPATARA Indonesia Zuhro Rosiyah, Pendeta GKJW Lawang Sevi Niasari, S.Si.Teol., dan Atthasilani Gandasilani dari Vihara Dharmadipa Arama Batu yang juga menjabat Ketua Satgas TPPKS Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertajasa Baru. Ketiganya berbagi pengalaman dan pandangan mengenai pentingnya perlindungan perempuan dan anak di lingkungan rumah ibadah.
Peserta berasal dari Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Malang, hingga Kabupaten Pasuruan. Mereka terdiri atas tokoh agama, tokoh masyarakat, pegiat isu perempuan dan anak, serta aktivis kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Anggota DPRD Jawa Timur Komisi E, Hikmah Bafaqih, turut hadir sebagai narasumber. Ia menyampaikan permohonan maaf karena datang terlambat setelah mendampingi penanganan dugaan kasus pelecehan seksual di salah satu lembaga pendidikan keagamaan di Kota Malang.
“Mohon maaf saya sedikit terlambat mengikuti diskusi ini. Kemarin saya harus mendampingi penanganan sebuah kasus kekerasan yang sangat berkaitan dengan tema yang sedang kita bahas hari ini di Kota Malang. Proses pendampingan berlangsung hingga larut malam, sehingga saya hanya sempat beristirahat sekitar dua jam,” ujar Hikmah.
Dalam kesempatan tersebut, Yayasan KOPPATARA juga memperingati hari jadinya yang ke-8 secara sederhana bersama seluruh peserta diskusi.
Ketua Peace Leader Indonesia, Redy Saputro, mengatakan kegiatan ini bertujuan membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya menciptakan ruang aman sekaligus memperkuat kesehatan mental perempuan dan anak melalui peran aktif tokoh agama, tokoh masyarakat, serta komunitas lintas iman.
Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci untuk menghadirkan lingkungan yang mendukung perlindungan kelompok rentan sekaligus memperkuat budaya saling menghormati di tengah keberagaman.
Sementara itu, Ketua KOPPATARA Indonesia, Zuhro Rosiyah, menegaskan forum lintas agama diperlukan untuk mempertemukan praktisi dan aktivis perlindungan perempuan dan anak agar dapat saling berbagi pengalaman serta memperkuat sinergi.
Ia juga mendorong setiap rumah ibadah memiliki mekanisme yang jelas dalam menangani kasus kekerasan, mulai dari sistem pelaporan hingga pendampingan korban.
Selain membahas upaya pencegahan kekerasan, peserta juga menekankan pentingnya menjadikan rumah ibadah sebagai ruang yang inklusif, aman, dan ramah bagi perempuan maupun anak. Rumah ibadah diharapkan tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga pusat edukasi, pencegahan kekerasan, dan dukungan kesehatan mental tanpa membedakan latar belakang agama maupun keyakinan.
Diskusi ditutup dengan doa bersama lintas agama sebagai simbol persatuan. Pada akhir kegiatan, peserta menyerahkan rekomendasi mengenai penguatan ruang aman, kesehatan mental, serta kebebasan beragama dan berkeyakinan kepada Hikmah Bafaqih sebagai masukan dalam mendorong kebijakan yang berpihak pada perlindungan perempuan dan anak.
- Penulis: YAT
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar