Budaya Malangan Memukau di Karnaval APEKSI 2026, Bantengan dan MFC Curi Perhatian Nasional
- account_circle ADK
- calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Malang bersama Kepala Disporapar Kota Malang Baihaqi dan kontingen budaya Kota Malang usai tampil pada Karnaval Budaya Rakernas XVIII APEKSI 2026 di Kota Medan. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MEDAN, Memodaily.id – Kontingen budaya Kota Malang sukses mencuri perhatian ribuan penonton pada puncak Karnaval Budaya “The Sparkling of Local Heroes & Culture” yang menjadi rangkaian penutup Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII APEKSI 2026 di Kota Medan, Kamis (2/7) malam. Penampilan yang memadukan atraksi Bantengan dan kostum megah Malang Flower Carnival (MFC) mendapat sambutan meriah dari masyarakat dan delegasi pemerintah kota se-Indonesia.
Kontingen Kota Malang membuka penampilannya dengan atraksi Bantengan, kesenian tradisional khas Malang yang merepresentasikan nilai keberanian, kebersamaan, dan semangat gotong royong. Atraksi tersebut kemudian dipadukan dengan parade busana khas Malangan serta kostum artistik Malang Flower Carnival yang selama ini menjadi ikon kreativitas Kota Malang.
Sepanjang rute karnaval, ribuan masyarakat tampak antusias menyaksikan dan mengabadikan penampilan kontingen Kota Malang. Tepuk tangan dan sorak dukungan terus mengiringi rombongan hingga menyelesaikan seluruh rangkaian parade budaya.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang sekaligus Ketua Rombongan Budaya Kota Malang, Baihaqi, mengatakan penampilan tersebut merupakan hasil persiapan yang dilakukan jauh sebelum pelaksanaan Rakernas APEKSI.
“Alhamdulillah, pada puncak Karnaval Budaya APEKSI 2026 malam ini, kontingen Kota Malang mampu memberikan penampilan terbaik. Sambutan masyarakat sangat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa budaya Malangan memiliki daya tarik yang kuat dan mampu bersaing di panggung nasional,” ujar Baihaqi.
Menurutnya, keikutsertaan Kota Malang dalam Karnaval Budaya APEKSI bukan sekadar memenuhi agenda seremonial pemerintah daerah, melainkan menjadi sarana memperkenalkan identitas budaya Kota Malang kepada kepala daerah, tamu undangan, dan masyarakat Indonesia.
“Ini bukan sekadar parade budaya. Ini adalah diplomasi budaya Kota Malang. Kami ingin memperlihatkan bahwa Kota Malang memiliki kekayaan seni, budaya, dan kreativitas yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya,” katanya.
Baihaqi menjelaskan, atraksi Bantengan dipilih sebagai representasi budaya yang hingga kini tetap hidup dan dilestarikan masyarakat Malang. Sementara kehadiran kostum Malang Flower Carnival menjadi simbol kreativitas generasi muda yang mampu mengangkat budaya lokal menjadi karya seni bernilai ekonomi sekaligus mendukung sektor pariwisata.
Selain menampilkan kekayaan budaya, kontingen Kota Malang juga membawa pesan pembangunan melalui program Dasa Bakti sebagai komitmen Pemerintah Kota Malang dalam meningkatkan pelayanan publik, memperkuat ekonomi masyarakat, melestarikan lingkungan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Budaya adalah identitas. Ketika identitas itu mampu ditampilkan dengan baik, maka akan menjadi kekuatan dalam membangun citra positif daerah. Kami ingin dunia melihat bahwa Kota Malang bukan hanya dikenal sebagai kota pendidikan, tetapi juga sebagai kota budaya dan kota kreatif,” ungkap Baihaqi.
Keikutsertaan Kota Malang dalam Karnaval Budaya APEKSI 2026 menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Malang dalam melestarikan budaya lokal di tengah perkembangan zaman. Melalui ajang berskala nasional tersebut, Kota Malang menegaskan komitmennya mengembangkan seni dan budaya sebagai pendukung sektor pariwisata, ekonomi kreatif, serta memperkuat peluang kolaborasi antardaerah.
Pemerintah Kota Malang berharap semangat “Malang Mbois Berkelas” yang ditampilkan dalam Rakernas APEKSI 2026 mampu memperluas kerja sama di bidang budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga investasi yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar