Novita Hardini: Pariwisata Tak Cukup Modal Keindahan
- account_circle RFR
- calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini bersama peserta kegiatan saat membahas penguatan infrastruktur dan ekosistem digital pariwisata Indonesia. (Foto: Dok. Novita)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Memodaily.id – Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menilai kekayaan alam dan budaya Indonesia perlu didukung infrastruktur serta ekosistem digital yang memadai agar pariwisata mampu bersaing di tingkat global.
Menurut Novita, promosi pariwisata di forum internasional harus dibarengi kesiapan daerah dalam menyediakan kebutuhan wisatawan. Infrastruktur yang diperlukan tidak hanya berupa akses menuju destinasi, tetapi juga jalan yang terhubung, listrik, air bersih hingga konektivitas digital.
“Jangan sampai wisatawannya datang, tetapi ekosistem pendukung tidak siap,” kata Novita, Sabtu (5/9/2026).
Ia juga mendorong pengembangan infrastruktur yang menghubungkan pariwisata dengan ekonomi kreatif masyarakat. Fasilitas seperti pusat kebudayaan, ruang kreatif, sentra kerajinan, kawasan kuliner, galeri produk lokal, studio kreatif dan ruang pertunjukan dinilai dapat memperkuat ekosistem pariwisata daerah.
“Saya mendorong bahwa budaya bukan hanya dinikmati sesaat, namun harus menjadi kekuatan ekonomi. Maka infrastrukturnya juga harus menjadi prioritas pembangunan,” ujarnya.
Di sisi lain, Novita menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital untuk memudahkan wisatawan memperoleh informasi mengenai destinasi, kuliner dan produk kreatif daerah.
Ia mencontohkan Korea Selatan yang menggunakan sistem pemetaan digital seperti NAVER Map untuk membantu masyarakat dan wisatawan menemukan berbagai lokasi.
“Seperti satu data informasi, menggunakan teknologi yang memudahkan wisatawan, seperti informasi kuliner, spot destinasi wisata, spot kreatif daerah yang bisa diakses satu pintu,” katanya.
Novita menilai penguatan ekosistem digital dan infrastruktur juga diperlukan agar diplomasi budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Pertunjukan kesenian daerah di tingkat internasional, kata dia, harus dapat membuka peluang kerja sama sekaligus memperkenalkan potensi ekonomi daerah.
Pandangan tersebut disampaikan Novita dalam konteks keterlibatan Trenggalek pada Yeosu World Island Fair 2026 di Korea Selatan. Sebanyak 15 penari dari Trenggalek dipersiapkan membawa kesenian daerah, termasuk Turonggo Yakso, dalam ajang internasional tersebut.
Novita berharap kehadiran budaya Trenggalek dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan pariwisata, kuliner, kerajinan dan ekonomi kreatif daerah kepada masyarakat internasional.
“Karena budaya yang hidup bukan hanya budaya yang dilestarikan tetapi budaya yang mampu menghidupi generasi yang mewarisinya,” pungkasnya.
- Penulis: RFR
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar