Bukan Cuma Pipa Bocor, Tugu Tirta Bongkar Strategi Lawan Air yang “Hilang” di Forum Internasional
- account_circle ADK
- calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Direktur Utama Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang, Priyo Sudibyo, saat menjadi narasumber dalam International Webinar Series tentang strategi pengelolaan Non-Revenue Water (NRW). (Foto: Memodaily.id/Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.Id – Air yang diproduksi tetapi tak tercatat sebagai pendapatan menjadi pekerjaan rumah serius bagi perusahaan air minum. Persoalannya bukan sekadar mencari pipa yang bocor, melainkan membongkar ke mana setiap tetes air mengalir dan memastikan seluruh distribusi tercatat secara akurat.
Persoalan Non-Revenue Water (NRW) atau air tak berekening inilah yang dibawa Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang ke panggung internasional.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang, Priyo Sudibyo, menjadi salah satu narasumber dalam International Webinar Series yang mempertemukan pengalaman pengelolaan NRW dari berbagai negara.
Forum tersebut digelar Rabu (2/9) siang, dengan mengangkat tema “Non-Revenue Water (NRW) Management: Country Experiences, Challenges, and Effective…”.
Kehadiran Priyo bukan hanya membawa nama Tugu Tirta. Ia juga tampil dalam kapasitasnya sebagai Ketua PD PERPAMSI Jawa Timur, sehingga pengalaman pengelolaan air di Kota Malang turut menjadi bahan pertukaran pengetahuan dalam forum tersebut.
Saat dikonfirmasi, Kamis (3/9), Priyo menegaskan bahwa pengendalian NRW membutuhkan pendekatan yang terukur. Kehilangan air tidak bisa hanya dilihat dari sisi kerusakan fisik jaringan, tetapi harus ditelusuri berdasarkan data dan kondisi distribusi secara menyeluruh.
NRW sendiri mencakup air yang telah masuk dalam sistem penyediaan tetapi tidak tercatat sebagai air yang menghasilkan pendapatan.
Kehilangan itu bisa terjadi secara fisik, seperti kebocoran pipa, maupun secara komersial, misalnya akibat ketidakakuratan meter pelanggan atau konsumsi yang tidak tercatat.
Di titik inilah pengelolaan data dan teknologi menjadi kunci.
Tugu Tirta sebelumnya telah mengembangkan berbagai pendekatan untuk membantu mengendalikan kehilangan air. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi pemetaan jaringan berbasis QGIS.
Teknologi tersebut memungkinkan kondisi dan posisi jaringan dipetakan dengan lebih detail. Data itu kemudian dapat menjadi dasar untuk melakukan pemantauan, mengidentifikasi titik bermasalah hingga menentukan langkah penanganan secara lebih terarah.
Pengalaman tersebut bahkan telah dibagikan Tugu Tirta kepada pengelola air minum daerah lain melalui kegiatan pertukaran pengetahuan pada 2025.
Artinya, strategi melawan NRW tidak berhenti pada mengganti pipa yang rusak. Perusahaan dituntut mampu membaca jaringan, mengukur distribusi, mencocokkan volume produksi dengan konsumsi pelanggan serta mendeteksi potensi kehilangan secara lebih cepat.
Semakin banyak air produksi yang tidak tercatat, semakin besar pula sumber daya yang terbuang.
Sebaliknya, ketika kehilangan air dapat ditekan, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan efisiensi pelayanan tanpa harus terus-menerus bergantung pada pembangunan kapasitas produksi baru.
Bagi Tugu Tirta, persoalan tersebut menjadi bagian dari tantangan pengelolaan perusahaan air minum di era yang semakin mengandalkan teknologi dan data.
Karena itu, forum internasional yang diikuti Priyo menjadi lebih dari sekadar agenda berbagi pengalaman. Tugu Tirta tidak hanya menyerap pembelajaran dari pengelola air minum negara lain, tetapi juga membuka pengalaman Kota Malang untuk dipelajari dan dipertukarkan.
Pengalaman tersebut mencakup pengendalian NRW, pemanfaatan teknologi pemetaan jaringan hingga pengembangan konsep Smart Water City.
Ujung persoalannya sederhana, tetapi dampaknya besar: bagaimana memastikan air yang sudah diproduksi benar-benar sampai kepada masyarakat dan tercatat secara akurat.
Sebab, bagi perusahaan air minum, setiap tetes air yang hilang bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut efisiensi, keberlanjutan bisnis dan kualitas pelayanan kepada pelanggan.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar