Gempa NTT, Netty Soroti Kesehatan Jiwa Korban dan Relawan
- account_circle RFR
- calendar_month Jumat, 28 Agu 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menyoroti penguatan layanan kesehatan jiwa bagi korban dan relawan gempa NTT. (Foto: DPR RI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Memodaily.id – Penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta tidak hanya berfokus pada kondisi fisik korban. Layanan kesehatan jiwa dan dukungan psikososial bagi masyarakat terdampak hingga petugas di lokasi bencana juga perlu diperkuat.
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani mengatakan tekanan psikologis dapat muncul sejak masa tanggap darurat hingga proses pemulihan. Karena itu, kesehatan jiwa perlu menjadi bagian dari respons pemerintah dalam penanganan bencana.
“Saat rapat kerja dengan Menkes kemarin, saya juga sudah bertanya dan memberi masukan soal dukungan psikososial dan kesehatan jiwa diperkuat dalam penanganan pascagempa Flores, NTT,” kata Netty dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul meninggalnya seorang pemuda berinisial LM (20) di Dusun Nggolonio, Kabupaten Nagekeo, pada Kamis (20/8). LM diduga mengalami depresi berat dan kecemasan akibat gempa susulan yang terus terjadi.
Menurut Netty, kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana tidak selalu terlihat secara fisik. Korban juga membutuhkan pendampingan psikologis yang memadai selama berada di pengungsian maupun dalam masa pemulihan.
“Kasus meninggalnya seorang pemuda di belakang tenda penampungan karena diduga depresi harus menjadi alarm bagi pemerintah bahwa penanganan fisik penting, tetapi masalah psikologis pascabencana patut diwaspadai,” ujarnya.
Perhatian juga diarahkan kepada tenaga kesehatan, Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK), Tim SAR, dan relawan yang bekerja dalam situasi penuh tekanan.
“Karena kondisi penanganan bencana cukup berat, dan sering kali nakes dan relawan juga ikut menanggung beban mental, maka dibutuhkan penguatan fasilitas kesehatan jiwa bagi mereka,” kata Netty.
Selain dukungan psikologis, Netty meminta pemerintah memastikan seluruh petugas kemanusiaan memahami prosedur keselamatan selama menjalankan tugas di wilayah terdampak bencana.
“Sistem ini untuk memastikan bahwa tak perlu ada korban jiwa tambahan. Pemerintah juga harus memberikan edukasi kepada semua relawan yang bertugas untuk memastikan bisa menyelamatkan diri sendiri dulu sebelum menyelamatkan orang lain,” tuturnya.
Di sektor pelayanan kesehatan, Netty mengapresiasi pengiriman 206 TCK oleh Kementerian Kesehatan ke wilayah terdampak. Mereka dijadwalkan bertugas selama 14 hari di enam daerah dengan dampak berat, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Namun, ia mengingatkan agar tenaga kesehatan yang diterjunkan memperoleh kondisi kerja yang aman serta waktu istirahat yang cukup.
“Dalam situasi bencana, kehadiran tenaga kesehatan sangat dibutuhkan. Tetapi kita juga harus memastikan mereka bekerja dalam kondisi yang aman, mendapat waktu istirahat yang cukup, dan tidak dipaksa mengabaikan keselamatan diri atas nama pengabdian,” jelasnya.
Netty juga meminta pemerintah mengantisipasi persoalan kesehatan yang dapat muncul setelah fase tanggap darurat, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dehidrasi, gangguan gizi, serta penyakit akibat keterbatasan air bersih dan sanitasi di pengungsian.
Ia mendorong pemulihan fasilitas kesehatan yang rusak agar masyarakat tidak terus bergantung pada layanan darurat.
“Setelah fase tanggap darurat, perhatian harus bergeser pada pemulihan layanan kesehatan. Puskesmas dan rumah sakit yang rusak harus segera dipulihkan agar masyarakat tidak terus bergantung pada layanan darurat,” katanya.
Netty turut mendorong penguatan sistem TCK dan kesiapsiagaan kesehatan di daerah rawan bencana. Menurutnya, setiap daerah perlu memiliki rencana kontingensi kesehatan yang mencakup kesiapan tenaga medis, logistik, serta fasilitas pendukung yang dapat segera dimobilisasi saat bencana terjadi.
“Bencana bisa datang kapan saja. Kita perlu memastikan setiap daerah memiliki rencana kontingensi kesehatan, tenaga cadangan yang siap dimobilisasi, serta dukungan logistik dan fasilitas yang memadai,” tegas politisi Fraksi PKS tersebut.
- Penulis: RFR
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar