Jejak Jepang di Desa Tlekung Masih Bertahan, Goa hingga Cerobong Asap Jadi Saksi Sejarah
- account_circle PRI
- calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Cerobong asap bekas pabrik kulit peninggalan masa pendudukan Jepang di Desa Tlekung, Kota Batu, yang masih berdiri hingga kini. (Foto: Memodaily.id/PRI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BATU, Memodaily.id – Di balik pesatnya perkembangan Kota Batu sebagai destinasi wisata, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, masih menyimpan jejak sejarah yang telah bertahan selama puluhan tahun. Peninggalan masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1940 itu hingga kini masih dapat dijumpai dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah di wilayah tersebut.
Beberapa peninggalan yang masih bertahan di antaranya Goa Jepang, cerobong asap bekas pabrik kulit, serta sumber air pertirtaan yang dikenal dengan nama Kaibun. Keberadaan situs-situs tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin mengenal sisi sejarah Kota Batu.
Kepala Desa Tlekung, Mardi, mengatakan cerobong asap bekas pabrik kulit sengaja dipertahankan sebagai penanda sejarah bahwa di lokasi tersebut pernah berdiri pabrik kulit yang dibangun pada masa pendudukan Jepang.
“Sedangkan untuk cerobong asap yang masih tegap berdiri sampai sekarang sengaja dibiarkan tetap ada di tempatnya, sebagai pertanda bahwa dahulu di lokasi itu pernah ada pabrik kulit yang didirikan oleh penjajah Jepang. Walaupun sekarang bekas pabriknya telah lenyap dan berubah menjadi area persawahan,” ujar Mardi, Rabu (22/7/2026).
Selain cerobong asap, Desa Tlekung juga memiliki jaringan Goa Jepang yang hingga kini masih menyimpan banyak misteri. Menurut Mardi, sedikitnya terdapat empat mulut goa yang masih diketahui keberadaannya, sementara sebagian lainnya telah tertutup oleh waktu dan perubahan kondisi lahan.
“Sebetulnya kalau dibuka, Goa Jepang tersebut masih banyak karena setiap sekitar 50 meter terdapat tembusan lubang goa yang di dalamnya terdapat sumber mata air,” katanya.

Salah satu mulut Goa Jepang di Desa Tlekung yang menjadi saksi sejarah masa pendudukan Jepang di Kota Batu. (Foto: Memodaily.id/PRI)
Ia menjelaskan, kawasan Goa Jepang pernah dikembangkan sebagai destinasi wisata pada masa Camat Samuji. Saat itu, kawasan tersebut direncanakan terintegrasi dengan pembangunan kolam renang sehingga mampu menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Kota Batu.
Sementara itu, sumber air pertirtaan Kaibun kini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kawasan tersebut telah diresmikan sebagai destinasi wisata desa pada 2019 oleh Wali Kota Batu saat itu, Dewanti Rumpoko.
Keberadaan peninggalan sejarah di Desa Tlekung menjadi bagian dari warisan budaya yang masih terjaga. Selain menyimpan nilai historis, situs-situs tersebut juga berpotensi dikembangkan sebagai wisata edukasi yang memperkenalkan sejarah Kota Batu kepada generasi muda maupun wisatawan.
- Penulis: PRI
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar