Pertumbuhan 5,45 Persen, DPR Soroti Daya Beli Rakyat
- account_circle RFR
- calendar_month Jumat, 14 Agu 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Foto: DPR RI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Memodaily.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen, menjadi yang tertinggi untuk periode semester I dalam 13 tahun terakhir. Meski demikian, capaian tersebut dinilai perlu diikuti dengan penguatan daya beli masyarakat.
Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati mengatakan pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya tercermin dalam indikator makro. Pemerintah perlu memastikan manfaat pertumbuhan dapat dirasakan masyarakat, terutama melalui harga kebutuhan pokok yang tetap terjangkau.
“Selama ini pertumbuhan ekonomi itu ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga itu berarti terkait dengan daya beli masyarakat,” ujar Anis saat ditemui di sela-sela Sidang Tahunan MPR RI, Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, serta Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, daya beli menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga konsumsi rumah tangga yang merupakan penopang pertumbuhan ekonomi. Karena itu, pemerintah diminta menjaga stabilitas harga, khususnya kebutuhan dasar masyarakat.
“Pemerintah harus terus mendorong tentang daya beli masyarakat, harga bahan pokoknya, kemudian bagaimana menjamin masyarakat bisa mendapatkan kebutuhannya, kebutuhan dasar terutama dengan harga terjangkau,” katanya.
Anis menilai daya beli yang terjaga juga dapat mendorong aktivitas ekonomi secara lebih luas. Masyarakat yang memiliki kemampuan belanja akan meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa, sehingga industri terdorong meningkatkan produksi.
“Dengan adanya daya beli yang cukup, sehingga masyarakat punya kemampuan untuk belanja terutama kebutuhan dasarnya, ini akan mendorong industri jadi lebih giat,” ujarnya.
Peningkatan permintaan, lanjut Anis, dapat mendorong produksi dan menciptakan iklim yang lebih baik bagi investasi.
“Karena ada demand, karena ada supply. Dengan industri lebih giat, investasi juga akan masuk dan begitu seterusnya,” kata Anis.
Ia mengapresiasi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen. Namun, pemerintah dinilai tetap perlu bekerja keras agar pertumbuhan tersebut tidak berhenti sebagai capaian statistik.
“Kalau memang pertumbuhannya 5,45, saya kira itu memang pertumbuhan, karena kemarin saya kira pemerintah harus terus bekerja keras,” pungkasnya.
Penguatan daya beli, pengendalian harga kebutuhan pokok, peningkatan aktivitas industri, dan masuknya investasi menjadi sejumlah faktor yang dinilai penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
- Penulis: RFR
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar