Breaking News
Selasa, 13 Oktober 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » Netty Aher Desak Pemerintah Benahi Distribusi Dokter demi Pemerataan Layanan Kesehatan

Netty Aher Desak Pemerintah Benahi Distribusi Dokter demi Pemerataan Layanan Kesehatan

  • account_circle RFR
  • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, Memodaily.id – Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, meminta pemerintah memprioritaskan pemerataan distribusi dokter dibanding hanya menambah jumlah tenaga medis. Menurutnya, persoalan utama layanan kesehatan di Indonesia adalah ketimpangan penempatan dokter yang menyebabkan masyarakat di sejumlah daerah masih kesulitan memperoleh layanan kesehatan.

Netty menyampaikan, selama ini kebijakan kesehatan nasional lebih banyak berfokus pada penambahan jumlah dokter. Padahal, menurutnya, akses masyarakat terhadap layanan kesehatan masih terhambat karena distribusi tenaga kesehatan yang belum merata.

“Selama ini pembahasan sering berfokus pada kurangnya jumlah dokter. Padahal persoalan yang paling dirasakan masyarakat adalah distribusi tenaga kesehatan yang belum merata. Masih banyak daerah yang kesulitan mendapatkan layanan dokter, sementara di kota-kota besar justru terjadi penumpukan tenaga medis,” ujar Netty, Selasa (7/7/2026).

Ia menilai pemerintah perlu menyusun perencanaan tenaga kesehatan berdasarkan kebutuhan riil setiap daerah. Pemetaan tersebut harus mempertimbangkan jumlah penduduk, kondisi geografis, beban penyakit, hingga kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan.

Menurut legislator Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VIII itu, penempatan dokter tidak cukup hanya melalui penugasan. Pemerintah juga perlu menyediakan insentif yang memadai, jenjang karier yang jelas, fasilitas kerja yang layak, serta dukungan terhadap kehidupan sosial tenaga kesehatan di daerah.

“Perencanaan tenaga kesehatan harus berbasis kebutuhan nyata di lapangan. Penempatan dokter tidak cukup hanya mengandalkan penugasan, tetapi juga harus didukung insentif yang memadai, jenjang karier yang jelas, fasilitas kerja yang layak, serta dukungan bagi kehidupan sosial tenaga kesehatan di daerah,” tegasnya.

Selain pemerataan tenaga medis, Netty juga mendorong pembangunan rumah sakit dan penyediaan alat kesehatan dilakukan berdasarkan kajian kebutuhan masing-masing wilayah. Langkah tersebut dinilai penting agar fasilitas kesehatan tidak terus terkonsentrasi di daerah yang sudah memadai, sementara wilayah lain masih mengalami keterbatasan layanan.

Terkait perkembangan teknologi, Netty menyambut pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam sektor kesehatan. Namun, ia menegaskan AI hanya berfungsi sebagai pendukung pelayanan dan tidak dapat menggantikan peran dokter dalam pengambilan keputusan klinis.

“AI dapat membantu proses skrining, analisis data kesehatan, pembacaan hasil pemeriksaan penunjang, hingga mempercepat administrasi pelayanan. Namun keputusan klinis tetap harus berada di tangan dokter karena pelayanan kesehatan membutuhkan penilaian profesional, komunikasi dengan pasien, serta pertimbangan etik yang tidak dapat digantikan oleh teknologi,” katanya.

Netty juga meminta pemerintah memperkuat pembiayaan sektor kesehatan melalui pendekatan promotif dan preventif, seperti deteksi dini penyakit, penguatan layanan kesehatan primer, pengendalian penyakit kronis, serta peningkatan layanan bagi kelompok lanjut usia.

Selain itu, ia menilai audit medis perlu diperkuat sebagai mekanisme evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan sekaligus memberikan kepastian hukum bagi tenaga kesehatan yang menjalankan tugas sesuai standar profesi.

“Dengan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada keselamatan pasien, kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan akan semakin kuat,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Netty menegaskan bahwa pemerataan layanan kesehatan hanya dapat terwujud melalui pembenahan distribusi tenaga kesehatan, pemerataan fasilitas, serta tata kelola yang lebih efektif dan berkeadilan.

  • Penulis: RFR
  • Editor: MUH

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PSEL Baru Beroperasi 2028, DPRD Kota Malang Minta Pengelolaan Sampah Diperkuat

    PSEL Baru Beroperasi 2028, DPRD Kota Malang Minta Pengelolaan Sampah Diperkuat

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle ADK
    • 0Komentar

    MALANG, Memodaily.id – DPRD Kota Malang meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tidak bergantung pada proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi utama persoalan sampah. Pasalnya, proyek strategis nasional tersebut diperkirakan baru dapat beroperasi pada 2028 hingga 2029. Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi, menegaskan penguatan sistem pengelolaan sampah yang […]

  • DPRD Kota Malang Tunda Sikap soal Perizinan Hotel Aston, Hearing Lanjutan Digelar 9 Juni

    DPRD Kota Malang Tunda Sikap soal Perizinan Hotel Aston, Hearing Lanjutan Digelar 9 Juni

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle ADK
    • 0Komentar

    Memodaily.id – Komisi A DPRD Kota Malang masih mendalami persoalan legalitas dan kelengkapan perizinan Hotel Aston Malang. Dewan belum mengambil keputusan dan memilih menunggu klarifikasi langsung dari pihak pengelola hotel dalam hearing lanjutan yang dijadwalkan pada 9 Juni 2026. Sekretaris Komisi A DPRD Kota Malang, Harvad Kurniawan R., SH, mengatakan pembahasan tersebut mengemuka dalam hearing […]

  • Mentan Bongkar Dugaan Beras Fortifikasi Bermasalah, Kerugian Capai Rp71 Triliun

    Mentan Bongkar Dugaan Beras Fortifikasi Bermasalah, Kerugian Capai Rp71 Triliun

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
    • account_circle RFR
    • 0Komentar

    JAKARTA, Memodaily.id – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap dugaan peredaran beras fortifikasi yang tidak memenuhi standar. Temuan tersebut diperkirakan menyebabkan potensi kerugian konsumen hingga Rp71 triliun serta potensi kerugian negara sekitar Rp56 triliun dari sisi subsidi pangan. Amran menjelaskan, beras fortifikasi merupakan pangan bergizi yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kelompok rentan, serta […]

  • Wali Kota Malang Gencarkan Warung Tekan Inflasi, Cabai Dijual Rp40 Ribu per Kilogram

    Wali Kota Malang Gencarkan Warung Tekan Inflasi, Cabai Dijual Rp40 Ribu per Kilogram

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle ADK
    • 0Komentar

    Memodaily.id – Pemerintah Kota Malang terus melakukan langkah konkret untuk mengendalikan inflasi daerah akibat melonjaknya harga cabai. Melalui program Warung Tekan Inflasi (WTI), Pemkot Malang menjual berbagai jenis cabai dengan harga Rp40 ribu per kilogram, jauh di bawah harga pasar yang masih berada pada kisaran Rp60 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Program intervensi harga […]

  • PSU Piranha Residence Belum Tuntas, Kavling A18 Jadi Sorotan

    PSU Piranha Residence Belum Tuntas, Kavling A18 Jadi Sorotan

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle ADK
    • 0Komentar

    MALANG, Memodaily.id – Polemik Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) di Perumahan Piranha Residence, Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, kembali bergulir. Pemkot Malang bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) melakukan pengukuran ulang untuk memastikan status sejumlah bidang lahan, termasuk kawasan kavling A18. Pengukuran dilakukan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang […]

  • Netty Dukung Larangan LPG Subsidi untuk MBG, Ingatkan SPPG Jangan Terganggu

    Netty Dukung Larangan LPG Subsidi untuk MBG, Ingatkan SPPG Jangan Terganggu

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
    • account_circle RFR
    • 0Komentar

    JAKARTA, Memodaily.id – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher mendukung kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang melarang Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menggunakan barang bersubsidi. Namun, ia meminta pemerintah memastikan kebijakan tersebut tidak menghambat operasional dapur maupun menurunkan kualitas makanan bagi penerima manfaat. Menurut Netty, larangan […]

expand_less