Inovasi Mahasiswa Unair Tembus 4 Besar Nasional, Angkat Potensi Desa Wisata
- account_circle memodaily
- calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam Tim Amerta Pertiwi saat mengikuti ajang Genera-Z Berbakti 2026 Bakti BCA. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SURABAYA, Memodaily.id – Prestasi kembali diraih mahasiswa Universitas Airlangga (Unair). Tim Amerta Pertiwi berhasil menembus empat besar nasional dalam ajang Genera-Z Berbakti 2026 yang diselenggarakan Bakti BCA melalui inovasi pengembangan Desa Wisata Patak Banteng, Kabupaten Wonosobo.
Kompetisi pengabdian masyarakat tingkat nasional tersebut berlangsung pada 21 Juni hingga 26 Juli 2026 dengan fokus pada pengembangan desa wisata binaan BCA melalui implementasi program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Tim Amerta Pertiwi beranggotakan Usamah dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) angkatan 2024, Muhammad Adib dari FIKKIA angkatan 2023, serta Regina Saraswati dari FIKKIA angkatan 2024.
Mereka mengimplementasikan proposal di Desa Wisata Patak Banteng yang dikenal sebagai jalur pendakian menuju Gunung Prau. Meski memiliki potensi wisata yang besar, desa tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan.
“Patak Banteng ramai karena menjadi akses ke Gunung Prau. Namun masih ada persoalan seperti pengelolaan sampah, stunting akibat pola asuh, keterbatasan listrik, hingga serangan virus pada lahan pertanian warga,” ujar Ketua Tim Amerta Pertiwi, Usamah, Kamis (23/7/2026).
Berdasarkan kondisi tersebut, tim merancang tiga program utama, yakni Rumah Inovasi yang berfokus pada pencegahan stunting dan pemberdayaan perempuan melalui kader Srikandi, Rumah Kompos untuk edukasi pengelolaan sampah organik menjadi kompos bernilai ekonomi, serta Rumah Bibit yang mengembangkan konsep agrowisata sekaligus menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Piko-Hidro (PLTPH) guna membantu kebutuhan listrik dan mendukung sektor pertanian.
Dalam pelaksanaannya, tim berkolaborasi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), ranger lokal, kader posyandu, pemerintah desa, serta tim operasional setempat agar program dapat berjalan secara berkelanjutan.
Usamah mengungkapkan perjalanan menuju babak empat besar nasional tidak berlangsung mudah. Seluruh proses kegiatan selama kompetisi didokumentasikan sebagai bagian dari penilaian.
“Banyak proses kami yang direkam. Di akhir kompetisi bahkan ada momen-momen yang penuh ketegangan hingga kami menangis di depan panggung,” katanya.
Ia berharap inovasi yang telah disusun dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Patak Banteng sekaligus menjadi motivasi bagi mahasiswa Unair lainnya untuk terus berkontribusi melalui program pengabdian masyarakat.
“Kami berharap ini menjadi jalan pembuka. Semoga ke depan semakin banyak tim Unair yang melanjutkan jejak ini,” ujarnya.
Menurut Usamah, semangat pengabdian harus dimulai dari diri sendiri dengan terus belajar dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
- Penulis: memodaily


Saat ini belum ada komentar