Emil Luncurkan HAJI C-AIRRe, Awal Transformasi Digital Kesehatan Jatim
- account_circle WNZ
- calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meluncurkan ekosistem transformasi digital kesehatan HAJI C-AIRRe 2026 di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meluncurkan Ekosistem Teknologi Digital Kesehatan dan Pelayanan Non-Tunai HAJI C-AIRRe (Collaborative Artificial Intelligence and Robotic Research Innovation Ecosystem in Healthcare) 2026 di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, Kamis (16/7/2026). Program ini menjadi langkah strategis dalam mendorong transformasi digital sektor kesehatan menuju rumah sakit berkelas dunia.
Mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Emil mengatakan HAJI C-AIRRe tidak hanya menghadirkan teknologi baru, tetapi membangun ekosistem inovasi yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan, riset, pendidikan, dunia usaha, industri kesehatan, hingga sektor keuangan.
“HAJI C-AIRRe bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi menjadi langkah nyata membangun ekosistem pelayanan kesehatan, riset, inovasi, dan digitalisasi yang terintegrasi menuju rumah sakit berstandar internasional,” ujar Emil.
Menurutnya, transformasi digital kesehatan merupakan implementasi Program Jatim Sehat dalam Nawa Bhakti Satya yang diperkuat melalui RPJMD Provinsi Jawa Timur 2025–2029. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan, memperluas pemerataan akses, mewujudkan Universal Health Coverage (UHC) 100 persen, serta menurunkan prevalensi stunting menjadi 12 persen pada 2029.
Emil menambahkan, peluncuran HAJI C-AIRRe juga menjadi bagian dari implementasi berkelanjutan Program Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD), khususnya dalam digitalisasi layanan kesehatan dan transaksi non-tunai di rumah sakit milik pemerintah.
“Transformasi digital kesehatan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan agar pelayanan publik semakin berkualitas dan mampu menjawab tantangan kesehatan di masa depan,” katanya.
Dalam pengembangan HAJI C-AIRRe, Emil menekankan dua aspek utama, yakni utilisasi dan ekosistem. Menurutnya, setiap inovasi harus benar-benar diterapkan dalam pelayanan sehari-hari agar mampu meningkatkan kualitas diagnosis, mempercepat layanan, dan memberikan manfaat langsung bagi pasien.
“Kata kuncinya adalah utilisasi. Apapun inovasi yang dihasilkan harus dimanfaatkan. Karena itu dibutuhkan dukungan seluruh insan civitas hospitalia, khususnya para dokter dan tenaga kesehatan,” tegasnya.
Selain itu, ia menilai keberhasilan inovasi bergantung pada kolaborasi yang kuat antara rumah sakit, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, industri kesehatan, serta lembaga riset.
Emil juga mendorong penyusunan roadmap pengembangan bersama perguruan tinggi agar teknologi yang dihasilkan dapat distandardisasi, diintegrasikan ke dalam praktik pelayanan kesehatan, dan dimanfaatkan secara lebih luas.
Ia berharap rumah sakit tidak hanya menjadi pusat pelayanan kesehatan, tetapi juga berkembang sebagai inkubator inovasi teknologi medis nasional untuk memperkuat kemandirian Indonesia di bidang kesehatan.
Dalam kesempatan tersebut, Emil mengapresiasi kolaborasi RSUD Haji Provinsi Jawa Timur bersama Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Bank Indonesia, Bank Jatim, serta sejumlah mitra strategis yang dinilai telah membangun ekosistem inovasi berbasis kolaborasi.
HAJI C-AIRRe dibangun di atas dua pilar utama, yakni Financial and Operational Excellence serta Clinical Excellence, yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan medis sekaligus memperkuat tata kelola rumah sakit.
Menutup sambutannya, Emil mengajak seluruh pemangku kepentingan menjaga semangat “From Research to Impact, From AI to Humanity” agar hasil riset dan inovasi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semoga kolaborasi antara rumah sakit dan perguruan tinggi terus berkembang, rumah sakit menjadi inkubator inovasi teknologi medis, serta HAJI C-AIRRe mampu memperkuat kemandirian teknologi kesehatan nasional sekaligus menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin cepat, aman, berkualitas, dan berpusat pada pasien,” pungkasnya.
- Penulis: WNZ
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar