1.216 Kebakaran Terjadi di Jakarta, Kurniasih Dorong Pencegahan dari Rumah
- account_circle RFR
- calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota DPR RI Kurniasih Mufidayati mendorong penguatan pencegahan kebakaran di Jakarta melalui edukasi keselamatan listrik dan kesiapsiagaan warga. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Memodaily.id – Sebanyak 1.216 kejadian kebakaran tercatat di Jakarta sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 358 kejadian terjadi di bangunan permukiman. Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) DKI Jakarta II, Kurniasih Mufidayati, mendorong penguatan upaya pencegahan, terutama melalui edukasi keselamatan listrik dan pemetaan kawasan rawan kebakaran.
Dorongan tersebut disampaikan menyusul delapan kejadian kebakaran di sejumlah wilayah Jakarta pada 8–9 Oktober 2026. Salah satu kebakaran di kawasan Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat, menghanguskan 83 rumah dan berdampak terhadap 388 warga.
“Penanganan kebakaran tentu harus cepat dan efektif. Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita mencegah api muncul sejak awal. Pencegahan harus menjadi gerakan bersama, dimulai dari rumah tangga, lingkungan permukiman, hingga kesiapan sarana dan prasarana pendukung,” ujar Kurniasih, Minggu (11/10/2026).
Kurniasih menyoroti faktor kelistrikan yang disebut menyumbang sekitar 53 persen penyebab kebakaran. Menurutnya, edukasi keselamatan listrik perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat.
Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain menghindari penggunaan sambungan listrik secara berlebihan, memeriksa kondisi kabel secara berkala, serta menggunakan perangkat listrik sesuai standar keselamatan.
“Lebih dari separuh kejadian kebakaran berkaitan dengan masalah kelistrikan. Artinya, ada ruang pencegahan yang sangat besar melalui perubahan kebiasaan masyarakat,” jelasnya.
Ia mengusulkan edukasi pencegahan kebakaran secara rutin hingga tingkat RT dan RW dengan melibatkan pengurus lingkungan serta relawan kebakaran. Pemerintah juga didorong memetakan risiko kebakaran hingga tingkat RW dengan mempertimbangkan riwayat kejadian, kepadatan bangunan, kondisi instalasi listrik, akses mobil pemadam kebakaran, dan ketersediaan sumber air.
Selain edukasi, kesiapsiagaan warga perlu diperkuat melalui penyediaan alat pemadam api ringan (APAR) yang layak dan mudah dijangkau. Penyediaan sarana tersebut juga perlu disertai pelatihan agar warga memahami cara penggunaannya secara tepat.
Relawan kebakaran pun dinilai perlu mendapatkan pelatihan berkala, terutama terkait identifikasi potensi bahaya, sistem peringatan dini, dan prosedur evakuasi ketika terjadi kebakaran.
Kurniasih menegaskan, keselamatan warga harus menjadi prioritas dalam penanganan awal kebakaran. Apabila api melibatkan instalasi listrik yang masih bertegangan, warga perlu menghindari tindakan pemadaman yang berisiko tersengat listrik dan segera menghubungi petugas berwenang.
Melalui pencegahan yang terencana, edukasi berkelanjutan, dan kesiapsiagaan di tingkat lingkungan, risiko kebakaran di kawasan permukiman diharapkan dapat ditekan sehingga potensi korban jiwa dan kerugian material bisa diminimalkan.
- Penulis: RFR
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar