13 Siswa Diswab, Dinkes Malang Selidiki Penyebab Gangguan Pernapasan di SMP Taman Siswa
- account_circle ADK
- calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kadiskes Kota Malang dr Husnul Muarif saat memberikan keterangan terkait pemeriksaan 13 siswa SMP Taman Siswa yang menjalani swab. (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang masih memburu kepastian penyebab gangguan kesehatan yang sempat membuat puluhan siswa SMP Taman Siswa tidak masuk sekolah.
Sebanyak 13 siswa menjalani pemeriksaan swab setelah sebelumnya mengalami keluhan flu, batuk dan demam. Sampel tersebut kini masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan melalui Whole Genome Sequencing (WGS).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif, mengatakan sampel swab tersebut diproses melalui BBLK Surabaya sebelum dilanjutkan ke Jakarta untuk pemeriksaan genom.
“13 itu sudah kita swab. Tinggal menunggu hasil swab-nya. Insyaallah mungkin Senin atau Selasa,” kata Husnul saat dikonfirmasi, Jumat (2/10/2026).
Pemeriksaan WGS tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah keluhan yang dialami siswa berkaitan dengan influenza biasa atau subtipe influenza tertentu.
“Apakah itu influenza biasa atau subtipe A atau B, nanti kita lihat dari hasil pemeriksaannya,” jelasnya.
Gangguan kesehatan di SMP Taman Siswa sebelumnya menjadi perhatian setelah 124 siswa dilaporkan tidak masuk sekolah pada Senin (21/9/2026).
Jumlah tersebut kemudian menurun. Pada Selasa (22/9) dan Rabu (23/9), sekitar 90 siswa masih tercatat tidak masuk. Sedangkan pada Kamis (24/9), sekitar 80 siswa masih absen dengan berbagai keluhan.
Kondisi itu membuat sekolah mengambil langkah antisipasi dengan memangkas jam pembelajaran. Sejak Rabu (23/9), kegiatan belajar yang sebelumnya berlangsung hingga pukul 15.00 WIB dibatasi sampai pukul 12.00 WIB.
Penggunaan masker juga diberlakukan kepada seluruh siswa dan guru.
Namun, Husnul mengingatkan agar angka ketidakhadiran tersebut tidak langsung dianggap sebagai jumlah siswa yang terjangkit ISPA.
“Keluhannya macam-macam, bukan hanya ISPA. Bisa memang izin tidak masuk, bisa juga habis dirawat karena tipes. Jadi tidak semuanya yang tidak masuk itu karena ISPA,” ungkapnya.
Dinkes Kota Malang tidak hanya melihat kondisi siswa, tetapi juga melakukan asesmen terhadap lingkungan SMP Taman Siswa.
Hasilnya, ditemukan sejumlah kondisi yang dinilai dapat menjadi faktor pendukung gangguan saluran pernapasan, mulai dari ventilasi yang kurang memadai, pencahayaan yang kurang hingga fasilitas cuci tangan yang belum optimal.
“Ventilasinya kurang, kemudian pencahayaan juga kurang, kemudian sarpras untuk cuci tangan juga belum bisa kita harapkan layak. Itu faktor-faktor pendukung,” tutur Husnul.
Menurutnya, kondisi lingkungan di luar sekolah juga perlu diperhatikan. Paparan asap maupun polusi udara dapat turut memengaruhi kondisi saluran pernapasan.
Dinkes juga masih mendorong penggunaan masker di lingkungan sekolah. Kebijakan tersebut tidak hanya ditujukan kepada siswa yang sedang mengalami sakit.
“Semua,” tegas Husnul ketika ditanya apakah masker diberlakukan bagi seluruh siswa dan guru.
Ia mengatakan penggunaan masker menjadi salah satu upaya untuk mengurangi kontaminasi dan paparan debu yang masuk ke saluran pernapasan.
Selain masker, Husnul meminta protokol kesehatan kembali diperkuat.
“Protokol kesehatan zaman COVID itu harus diaktifkan lagi,” ujarnya.
Dinkes Kota Malang juga membandingkan kondisi SMP Taman Siswa dengan SMP 20 yang berada di seberangnya.
Husnul menyebut aktivitas pembelajaran di SMP 20 tidak mengalami gangguan seperti yang terjadi di SMP Taman Siswa.
“Di SMP 20 itu tidak ada yang istilahnya pembelajaran terganggu. Siswa yang pembelajaran hampir 99 persen. Tidak seperti yang ada di Taman Siswa,” katanya.
Ia juga memastikan belum ada kesimpulan bahwa kondisi di SMP Taman Siswa merupakan sebuah klaster penyakit tertentu.
Untuk mengantisipasi munculnya kasus serupa di sekolah lain, pemantauan dilakukan melalui puskesmas di masing-masing wilayah.
Kini perhatian Dinkes tertuju pada hasil pemeriksaan 13 siswa tersebut. Hasil WGS diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai penyebab keluhan yang dialami.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang membutuhkan penanganan khusus, Dinkes akan berkoordinasi dengan rumah sakit untuk menentukan langkah berikutnya, termasuk apabila berkaitan dengan Severe Acute Respiratory Infection (SARI).
“Kita lihat kondisinya. Kalau kondisinya bagus, kita support tambahan atau terapi tambahan yang nanti kita konsultasikan dengan rumah sakit. Kalau ada rekomendasi untuk SARI, nanti kita tindak lanjuti,” pungkas Husnul.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar