Adipura 2027 di Depan Mata, DLH Malang Berpacu Benahi Sampah hingga Kawasan Sungai
- account_circle ADK
- calendar_month Minggu, 18 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Plt Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, memaparkan upaya pembenahan pengelolaan sampah, kawasan sungai, dan ruang publik untuk mengejar Piala Adipura 2027. (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Pemerintah Kota Malang membidik Piala Adipura 2027. Namun, ambisi meraih penghargaan di bidang kebersihan dan pengelolaan lingkungan tersebut masih dibayangi pekerjaan rumah besar, mulai dari tingginya volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) hingga pembenahan kawasan sungai dan sejumlah titik yang masih ditemukan kotor.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, mengungkapkan tim penilai Adipura telah melakukan peninjauan lapangan pada Kamis lalu. Pemeriksaan itu berlangsung relatif mendadak karena DLH baru menerima informasi pada Rabu.
Meski waktu persiapan terbatas, Raymond menegaskan bahwa lokasi yang diperiksa merupakan gambaran kondisi nyata di lapangan, bukan sekadar kawasan yang sengaja dipoles untuk menyambut kedatangan tim penilai.
“Memang kami baru mengetahui pada Rabu bahwa penilaian akan dilakukan Kamis. Jadi, persiapannya cukup mendadak. Namun, kondisi lokasi yang diperiksa memang sesuai dengan kondisi riil di lapangan,” jelas Raymond, Minggu (18/10/2026).
Sejumlah lokasi menjadi sasaran pemeriksaan, mulai dari kawasan permukiman, tempat usaha, taman kota, hingga sekolah dari berbagai jenjang pendidikan. Kondisi kebersihan lingkungan dan fasilitas publik menjadi bagian yang diperhatikan dalam penilaian tersebut.
Raymond mengakui sebagian besar lokasi yang dikunjungi telah terpelihara dengan baik. Namun, masih ada beberapa titik yang membutuhkan perhatian, terutama sampah yang ditemukan di pinggir jalan.
“Rata-rata lokasi yang diperiksa memang sudah dianggap baik. Tetapi masih ada beberapa titik yang perlu diperbaiki, misalnya karena masih ditemukan sampah di pinggir jalan. Secara keseluruhan, kami berharap hasil penilaian kemarin masih memenuhi ekspektasi,” imbuhnya.
Di balik target meraih Piala Adipura, persoalan sampah menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Raymond menyebut timbulan sampah di Kota Malang diperkirakan mencapai 787 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 700 ton masih masuk ke TPA.
Angka itu memperlihatkan besarnya beban pengelolaan sampah yang harus ditangani Pemkot Malang. Pengurangan sampah tidak cukup dilakukan dengan mengangkut tumpukan dari jalan dan permukiman, tetapi harus dimulai dari sumbernya agar volume yang berakhir di TPA semakin kecil.
Raymond mengatakan, persentase sampah yang masuk ke TPA saat ini masih berada di kisaran 45–50 persen. Sementara itu, target yang disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup adalah menekan porsi sampah yang masuk ke TPA menjadi 30 persen.
“Dari total kurang lebih 787 ton sampah per hari di Kota Malang, yang masuk ke TPA masih sekitar 700 ton. Kami berharap melalui program pengelolaan sampah dari hulu sampai hilir, jumlah yang masuk ke TPA bisa ditekan menjadi 30 persen atau hanya berupa residu,” tegas Raymond.
Untuk mengejar target tersebut, DLH mendorong pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Sampah yang telah dipilah diharapkan tetap terkelola ketika masuk ke tempat penampungan sementara (TPS), termasuk melalui fasilitas tempat pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (TPS 3R).
Dengan sistem itu, sampah yang masih dapat dimanfaatkan tidak langsung dibuang ke TPA. Pengolahan di tingkat lingkungan diharapkan mampu menekan volume sampah yang harus diangkut ke lokasi pembuangan akhir.
Upaya pembenahan persampahan juga diharapkan mendapat dukungan melalui program dari Kementerian Lingkungan Hidup yang direncanakan berjalan pada 2027 dengan pendanaan World Bank.
Menurut Raymond, salah satu fokus program tersebut adalah pengelolaan sampah secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Program itu diharapkan memperkuat pemilahan, pengolahan, serta pengurangan sampah yang berakhir di TPA.
Di tengah efisiensi anggaran, DLH juga membutuhkan dukungan lintas organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk dalam penyediaan sarana pengelolaan sampah dan penguatan bank sampah.
“Dengan kondisi efisiensi anggaran, kami perlu bekerja sama dengan OPD lain. Dukungan anggaran dan sarana untuk pengelolaan sampah, seperti bank sampah dan tong sampah, bisa membantu memperkuat upaya penanganan sampah di Kota Malang,” terangnya.
Raymond menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada DLH. Seluruh perangkat daerah dan masyarakat harus terlibat agar pemilahan serta pengolahan sampah menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.
Selain sampah, pembenahan kawasan sungai dan drainase menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan Kota Malang.
Raymond menyinggung kawasan Sungai Brantas yang melintasi Kampung Warna-Warni dan kawasan 3D. Meski perbaikan kawasan sungai telah dilakukan, ia mengakui masih terdapat pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar