Andalkan GPS, Dua Pendaki Nekat Terobos Jalur Ilegal Semeru Terdampar 3 Hari
- account_circle ADK
- calendar_month Jumat, 28 Agu 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dua pendaki, Yanuar (19) dan Dwi (25), saat berada di Mapolsek Poncokusumo setelah berhasil dievakuasi dari kawasan Gunung Semeru. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id — Mengandalkan GPS tanpa pemandu, dua pemuda asal Kepanjen, Kabupaten Malang, Yanuar (19) dan Dwi (25), justru terdampar selama tiga hari dua malam di kawasan Gunung Semeru.
Keduanya nekat memasuki kawasan Semeru melalui jalur ilegal di kawasan Limpak, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, pada Senin (24/8/2026) malam. Pendakian itu awalnya direncanakan sebagai perjalanan tektok, yakni naik dan turun tanpa bermalam.
Namun, rencana tersebut berantakan setelah keduanya menghadapi medan yang sulit. Mereka tersasar hingga berada di kawasan punggungan bukit yang mengarah ke Kalimati. Tanpa perlengkapan bermalam dan hanya mengandalkan perbekalan terbatas, keduanya akhirnya bertahan selama tiga hari dua malam.
Kapolsek Poncokusumo AKP Teguh Iman Sugiharto membenarkan kejadian tersebut. Yanuar dan Dwi akhirnya ditemukan di kawasan Ranu Kumbolo pada Kamis (27/8/2026) dalam kondisi kelelahan dan kehabisan logistik.
“Saat ditemukan mereka sudah kehabisan logistik. Tadi langsung kami berikan nutrisi dan kami serahkan ke orang tuanya dalam kondisi sehat,” ujar Teguh saat dikonfirmasi, Jumat (28/8/2026).
Dari keterangan kepada petugas, Yanuar mengaku mengetahui keberadaan jalur tersebut melalui media sosial TikTok. Keduanya kemudian mencoba menelusuri rute tanpa menggunakan jasa pemandu.
GPS menjadi satu-satunya alat bantu untuk menentukan arah perjalanan. Namun, teknologi tersebut tidak cukup membantu ketika mereka menghadapi kondisi medan yang sulit dan akhirnya kehilangan arah.
Setelah bekal makanan habis, keduanya memutuskan turun untuk mencari pertolongan. Perjalanan kemudian mengarah ke kawasan Ranu Kumbolo hingga akhirnya ditemukan petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) dalam proses evakuasi.
“Kami tadi memang menyerahkan diri karena logistik sudah habis. Tadi semua sudah dievakuasi, baru ketemu petugas dan diantar turun ke Ranupane,” kata Yanuar.
Keberadaan kedua pendaki sebelumnya tidak tercatat dalam sistem pendakian resmi karena mereka masuk melalui jalur ilegal. Kondisi ini membuat keberadaan keduanya sulit dipantau ketika mengalami keadaan darurat.
Peristiwa tersebut menjadi peringatan bahwa GPS bukan jaminan keselamatan di medan pegunungan. Jalur tidak resmi, minimnya persiapan, serta ketiadaan pemandu dapat membuat pendakian yang semula direncanakan sehari berubah menjadi situasi darurat.
Beruntung, Yanuar dan Dwi berhasil ditemukan dan dievakuasi dalam kondisi selamat. Keduanya kemudian diserahkan kepada keluarga setelah mendapat asupan makanan dan nutrisi dari petugas.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar