Bari’an Anak Nusantara ke-5, Wahyu: Toleransi Harus Dikenalkan Sejak Dini
- account_circle ADK
- calendar_month Minggu, 16 Agu 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyerahkan nasi tumpeng kepada perwakilan peserta Bari’an Anak Nusantara ke-5 di Alun-Alun Merdeka, Minggu (16/8). (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Pesan toleransi mewarnai pelaksanaan Bari’an Anak Nusantara ke-5 di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Minggu (16/8) sore. Usai pemotongan tumpeng, anak-anak dari berbagai latar belakang tampak berbagi makanan dan berinteraksi dalam suasana penuh keakraban.
Momen tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan nilai toleransi dan kebersamaan sejak dini. Perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk duduk bersama, berbagi, dan membangun persaudaraan.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, Bari’an Anak Nusantara bukan sekadar seremoni peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan sekaligus melestarikan tradisi dan nilai persatuan.
“Bari’an yang digelar hari ini bukan sekadar menjadi ungkapan rasa syukur dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari upaya kita untuk mengenalkan, merawat, dan melestarikan tradisi Bari’an sebagai salah satu kekayaan budaya yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat,” ujar Wahyu.
Ia menyebut Bari’an Anak Nusantara sebagai kegiatan yang mempertemukan anak-anak dalam semangat toleransi, keberagaman, dan nasionalisme.
“Mungkin ini adalah yang pertama dan satu-satunya yang diselenggarakan oleh Kota Malang,” katanya.
Wahyu menegaskan, keberagaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk terpecah. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk saling mengenal, menghargai, dan melengkapi.
“Keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi,” tegasnya.
Karena itu, keterlibatan anak-anak menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Wahyu menilai nilai toleransi perlu dikenalkan melalui pengalaman dan kebiasaan, bukan hanya disampaikan melalui pesan atau pidato.
“Dari sini kita dapat menanamkan kepada anak-anak dan generasi muda Kota Malang tentang pentingnya toleransi, saling menghargai, serta belajar hidup berdampingan di tengah-tengah perbedaan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan jati diri di tengah perkembangan zaman. Kemajuan teknologi dan perubahan sosial, kata dia, perlu diimbangi dengan kecintaan terhadap budaya dan semangat kebangsaan.
“Jangan sampai kemajuan zaman membuat kita kehilangan jati diri. Jadikan budaya sebagai akar keberagaman, sebagai kekuatan dan prestasi, sebagai cara kalian melanjutkan perjuangan para pahlawan,” pesan Wahyu.
Menurutnya, perjuangan generasi saat ini bukan lagi dengan mengangkat senjata seperti para pahlawan pada masa lalu. Tanggung jawab generasi muda adalah menjaga persatuan dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa.
“Perjuangan tidak terhenti hanya dengan bagaimana kita mempertaruhkan nyawa kepada penjajah dahulu, tetapi bagaimana kita berjuang untuk membela negara kita dengan segala keberagaman, dengan segala perbedaan ini untuk menjadi satu kekuatan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tuturnya.
Wahyu berharap semangat Bari’an Anak Nusantara terus hidup setelah kegiatan berakhir. Tradisi tersebut diharapkan menjadi ruang perjumpaan masyarakat sekaligus sarana memperkuat toleransi.
“Kota ini menjadi kota yang semakin kuat bukan karena kita sama, melainkan karena kita mampu hidup bersama dalam perbedaan,” tegasnya.
Bari’an Anak Nusantara ke-5 diisi dengan doa lintas agama dan kepercayaan untuk keselamatan bangsa, pemotongan tumpeng, pentas seni, serta parade lagu nasional. Momen anak-anak berbagi makanan menjadi salah satu gambaran pesan kebersamaan yang diusung kegiatan tersebut.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar