DLH Kota Malang Perkuat Mitigasi Kebakaran TPA Supit Urang dengan Bakteri Limbah Susu
- account_circle ADK
- calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Plt Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond H. Matondang, menjelaskan langkah mitigasi kebakaran di TPA Supit Urang melalui penyiraman rutin dan pemanfaatan bakteri berbahan limbah susu. (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang memperkuat upaya mitigasi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang seiring meningkatnya risiko kebakaran pada musim kemarau. Salah satu langkah yang diterapkan adalah penyiraman rutin serta pemanfaatan bakteri berbahan limbah susu untuk menekan pembentukan gas metana.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond H. Matondang, mengatakan pengawasan di TPA Supit Urang dilakukan setiap hari oleh petugas. Berbagai langkah pencegahan diterapkan agar timbunan sampah tidak memicu munculnya titik api.
“Teman-teman di TPA setiap hari melakukan pengawasan. Selain penyiraman, proses penataan sampah juga dilakukan agar sampah yang datang langsung ditempatkan pada titik yang sudah ditentukan sehingga tidak terjadi penumpukan yang berpotensi menimbulkan titik panas,” ujarnya.
Selain pengaturan timbunan sampah dan penyiraman, DLH memanfaatkan bakteri hasil olahan limbah susu yang disemprotkan ke area landfill. Metode biologis tersebut bertujuan mengurangi pembentukan gas metana yang menjadi salah satu faktor penyebab kebakaran di TPA.
“Bakteri dari limbah susu ini selain berbentuk cairan juga berfungsi meminimalisasi gas metana. Salah satu penyebab utama kebakaran di TPA adalah tingginya kandungan gas metana yang terbentuk dari proses pembusukan sampah organik,” kata Raymond.
Gas metana merupakan gas yang mudah terbakar dan dihasilkan dari proses dekomposisi sampah organik di dalam timbunan landfill. Jika terakumulasi dalam jumlah besar dan dipicu suhu tinggi atau percikan api, gas tersebut dapat memicu kebakaran yang sulit dipadamkan karena berasal dari dalam timbunan sampah.
Raymond menjelaskan, TPA Supit Urang sebelumnya memiliki instalasi pemanfaatan gas metana sebagai sumber energi. Namun, fasilitas tersebut rusak akibat kebakaran besar yang terjadi sekitar empat hingga lima tahun lalu sehingga belum dapat difungsikan kembali.
“Dulu gas metana di TPA Supit Urang dimanfaatkan. Tetapi setelah terjadi kebakaran beberapa tahun lalu, instalasi ikut terbakar sehingga belum bisa dimaksimalkan kembali. Karena itu, saat ini kami fokus menekan pembentukan gas metana sejak awal melalui penyiraman menggunakan bakteri,” jelasnya.
Selain penyemprotan bakteri, penyiraman rutin dilakukan dua kali dalam sepekan pada area aktif landfill seluas sekitar delapan hektare. Langkah tersebut bertujuan menjaga kelembapan timbunan sampah sekaligus menekan potensi munculnya titik panas selama musim kemarau.
DLH Kota Malang juga memastikan seluruh petugas tetap siaga memantau kondisi di lapangan. Apabila ditemukan indikasi peningkatan suhu atau munculnya asap dari timbunan sampah, penanganan akan segera dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas.
Melalui upaya tersebut, Pemerintah Kota Malang berharap operasional TPA Supit Urang tetap berjalan aman serta risiko kebakaran dapat diminimalkan sehingga pengelolaan sampah dan lingkungan tetap terjaga.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar