Jangan Sampai Sekolah Gagap Saat Bencana, Pemkot Malang Targetkan 4.000 Siswa Terlatih
- account_circle ADK
- calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin saat bertemu dan mengikuti kegiatan Sosialisasi serta Simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bersama siswa SMP Negeri 17 Kota Malang. (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Kesiapsiagaan menghadapi bencana di lingkungan sekolah tak boleh berhenti pada teori dan seremoni. Ketika situasi darurat terjadi, siswa dan guru dituntut mampu bergerak cepat, memahami jalur evakuasi, serta mengetahui titik aman untuk menyelamatkan diri.
Hal itu menjadi perhatian Pemerintah Kota Malang melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, hadir langsung dalam kegiatan Sosialisasi dan Simulasi SPAB bersama siswa SMP Negeri 17 Kota Malang, Kamis (3/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan sosialisasi dari BPBD Kota Malang. Mereka juga mengikuti simulasi untuk memahami langkah evakuasi, mengenali titik kumpul, serta mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.
“Hari ini bagian dari sosialisasi pembelajaran kebencanaan yang dilaksanakan oleh BPBD Kota Malang,” kata Ali.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari hasil musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) yang diarahkan untuk memperkuat pembelajaran kebencanaan di satuan pendidikan.
Pemkot Malang menargetkan 43 satuan pendidikan menjadi sasaran program tersebut. Dari pelaksanaan itu, sekitar 4.000 kader atau siswa ditargetkan mendapatkan pelatihan kebencanaan.
“Targetnya 43 satuan pembelajaran, rencananya sekitar 4.000 kader atau siswa yang nanti diajak pelatihan,” ujarnya.
Ali menegaskan, target tersebut diharapkan mampu memperkuat kesiapsiagaan warga sekolah. Sebab, bencana tidak dapat dipastikan kapan terjadi sehingga setiap individu harus memahami tindakan penyelamatan sejak sebelum keadaan darurat datang.
“Harapannya semua tingkatan pendidikan Kota Malang sudah siap dan waspada terhadap bencana,” tegasnya.
Ia menilai pembekalan terhadap siswa menjadi bagian penting dalam membangun budaya tanggap bencana sejak dini. Siswa tidak hanya diharapkan mampu menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keselamatan lingkungan sekitar.
“Ini penting karena anak-anak kami Kota Malang, terutama di tingkat pendidikan, sudah waspada dan sudah paham apa yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana,” tandas Ali.
Program SPAB kini menghadapi pekerjaan rumah yang lebih besar: memastikan pelatihan tidak berhenti sebagai agenda formal. Sekolah harus benar-benar memiliki prosedur evakuasi yang jelas, titik kumpul yang aman, jalur penyelamatan yang mudah dikenali, serta latihan berkala agar warga sekolah tidak panik ketika bencana benar-benar terjadi.
Sebab, kesiapsiagaan bukan diukur dari berapa kali simulasi digelar, melainkan dari seberapa cepat dan tepat warga sekolah bertindak ketika keadaan darurat datang.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar