Wali Kota Malang Ajak Lestarikan Bersih Desa Polowijen, Sejarah Kampung Jangan Sampai Hilang
- account_circle ADK
- calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menghadiri puncak perayaan Bersih Desa Polowijen 2026 yang menjadi momentum pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat. (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Ribuan warga memadati puncak perayaan Bersih Desa Polowijen 2026 yang digelar pada Sabtu (4/7/2026) malam. Tradisi tahunan yang berlangsung secara swadaya itu dihadiri Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Ketua DPRD Kota Malang, jajaran Forkopimda, tokoh masyarakat, serta pelaku UMKM.
Ketua LPMK Polowijen sekaligus Ketua Panitia Bersih Desa 2026, Andri Basuki, mengatakan Bersih Desa merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang membuka dan membangun kawasan Polowijen.
Menurutnya, rangkaian kegiatan telah berlangsung sejak 20 Juni 2026, diawali doa bersama di makam leluhur, tradisi Barikan di Petren, kirab budaya, karnaval, hiburan rakyat, hingga ditutup dengan pengajian umum dan pengumuman pemenang kirab budaya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga dan para donatur yang telah bergotong royong menyukseskan Bersih Desa. Seluruh kegiatan terlaksana berkat kebersamaan masyarakat Polowijen,” ujar Andri.
Dalam sambutannya, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengapresiasi konsistensi masyarakat Polowijen dalam mempertahankan tradisi di tengah perkembangan kota.
Ia mengingatkan bahwa budaya lokal menghadapi tantangan besar akibat derasnya arus modernisasi. Karena itu, generasi muda perlu dikenalkan dengan sejarah kampung halamannya agar tidak hanya mengenal budaya melalui media digital.
“Di kota, tradisi seperti Bersih Desa mulai jarang ditemukan. Jangan sampai anak-anak kita hanya mengenal budaya dari media sosial, tetapi tidak mengenal sejarah kampung halamannya sendiri,” kata Wahyu.
Wahyu menilai masyarakat Polowijen telah memberikan contoh bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan perkembangan perkotaan. Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya menjaga ritual, tetapi juga mempertahankan identitas dan sejarah daerah.
Ia juga meminta agar nama “Bersih Desa” tetap dipertahankan meskipun Polowijen kini berstatus kelurahan.
“Jangan sampai nanti berubah menjadi Bersih Kelurahan. Nama Bersih Desa memiliki nilai sejarah karena Polowijen dulu merupakan desa yang memiliki petinggi desa sebelum menjadi kelurahan. Sejarah itu jangan sampai hilang,” ujarnya.
Selain melestarikan budaya, kegiatan tersebut juga berdampak pada perekonomian masyarakat. Puluhan stan UMKM yang memadati lokasi acara ramai dikunjungi masyarakat, bahkan sejumlah pelaku usaha mengaku seluruh produknya habis terjual.
Menurut Wahyu, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.
“Bersih Desa membuktikan bahwa budaya bukan beban pembangunan. Justru budaya mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dan memperkuat kebersamaan warga,” tuturnya.
Ia berharap semangat gotong royong dan pelestarian budaya yang terus dijaga masyarakat Polowijen dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kota Malang agar tradisi lokal tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
“Melestarikan budaya bukan hanya menjaga tradisi, tetapi menjaga identitas daerah. Jika masyarakat mulai melupakan sejarahnya, maka perlahan mereka juga kehilangan jati dirinya. Karena itu Bersih Desa harus terus hidup sebagai gerakan masyarakat, bukan sekadar pesta tahunan,” pungkasnya.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar