Harga Cabai Kota Malang Merangkak Rp80 Ribu, Musim Kemarau Jadi Biang Kerok
- account_circle ADK
- calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Dispangtan Kota Malang Drs. Slamet Husnan Hariyadi saat menyampaikan perkembangan harga cabai, kondisi pertanaman, serta persiapan penanaman cabai di Kota Malang. (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Harga cabai di Kota Malang mulai membuat konsumen merogoh kocek lebih dalam. Dalam sepekan terakhir, harga komoditas tersebut terpantau berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Drs. Slamet Husnan Hariyadi, menyebut kondisi musim kemarau menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga cabai.
“Sekarang harga cabai mulai merangkak naik, ini dikarenakan masih masuk di musim kemarau,” ujar Slamet saat dikonfirmasi, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, kondisi kemarau membuat petani yang menanam cabai di lahan non-persawahan masih menunggu datangnya musim hujan. Saat ini sebagian petani masih berada pada tahap persiapan lahan.
“Untuk tanaman cabai yang tidak ditanam di lahan sawah itu menunggu awal musim hujan baru melaksanakan penanaman. Saat ini masih persiapan lahan,” jelasnya.
Persiapan tersebut salah satunya dilakukan pada lahan sekitar 2 hektare di Kota Malang. Lahan itu telah dibuat guludan, tanah diolah dan diberi pupuk kandang. Bibit cabai juga disebut sudah tersedia sehingga penanaman bisa segera dilakukan ketika musim hujan tiba.
“Salah satu contoh di Kota Malang ini ada lahan seluas 2 hektare sudah disiapkan berupa guludan-guludan. Tanah sudah diolah, sudah dikasih pupuk kandang, tinggal menunggu awal musim hujan maka akan langsung dilakukan penanaman. Bahkan bibitnya pun juga sudah siap,” ungkap Slamet.
Sementara itu, cabai yang ditanam di lahan persawahan sudah mulai memasuki masa tanam. Namun, hasilnya belum dapat langsung mengisi pasokan pasar dalam waktu dekat.
Slamet memperkirakan tanaman tersebut membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 3,5 bulan sebelum mulai dipanen. Itupun, hasil panen pertama biasanya belum besar dan produksi baru meningkat setelah tanaman memasuki beberapa kali panen.
“Tanaman cabai yang ada di lahan persawahan itu sudah mulai tanam, kemungkinan 3 atau 3 setengah bulan lagi mulai bisa panen. Tapi panen pertama pun tidak banyak, mungkin panen ke-8 atau ke-10 baru meningkat hasil,” katanya.
Ia menegaskan, kondisi pertanian cabai di Kota Malang sangat dipengaruhi faktor cuaca. Terlebih, sebagian lahan cabai merupakan lahan tadah hujan yang membuat petani harus menyesuaikan waktu tanam dengan datangnya musim hujan.
“Itu memang faktor cuaca, musim, dan kebanyakan khususnya di Kota Malang lahan untuk tanaman cabai ini lahan tadah hujan, sehingga menunggu musim hujan,” tegasnya.
Di tengah kenaikan harga tersebut, pemerintah masih melakukan pemantauan. Slamet menyebut apabila harga cabai bergerak hingga melewati Rp100 ribu per kilogram, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan menyiapkan langkah intervensi.
Intervensi tersebut salah satunya melalui toko atau warung tekan inflasi yang pelaksanaannya berada di bawah Diskopindag.
“Biasanya nanti dari tim TPID kalau memang kenaikannya di atas Rp100.000 akan ada intervensi melalui toko, warung tekan inflasi yang akan dijalankan oleh Diskopindag,” tuturnya.
Dari sisi produksi, Dispangtan juga melakukan persiapan tanaman cabai di wilayah Mbaran, Buring, Kedungkandang.
Tak hanya cabai, sejumlah komoditas hortikultura lain juga menjadi perhatian pemerintah, terutama bawang merah dan bawang putih yang turut berpotensi mengalami perubahan harga.
Dengan kondisi musim yang masih menjadi tantangan, pemerintah kini mengandalkan persiapan lahan dan ketersediaan bibit untuk memperkuat produksi ketika musim hujan tiba. Sementara cabai yang sudah ditanam di lahan persawahan masih membutuhkan waktu beberapa bulan sebelum dapat dipanen.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar