Empat RT Kompak Satukan Anggaran, Warga Puri Cempaka Putih Kini Panen Lele dan Kembangkan UMKM
- account_circle ADK
- calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat saat memanen tanaman hidroponik bersama warga dalam pengecekan program RT Berkelas di Perumahan Puri Cempaka Putih, Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang. (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Program RT Berkelas mulai memberikan dampak langsung bagi warga di Perumahan Puri Cempaka Putih, RW 06, Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.
Empat RT di kawasan tersebut memilih menggabungkan kekuatan program dan anggaran untuk membiayai kegiatan yang dinilai menjadi prioritas warga. Hasilnya, bukan hanya kegiatan peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang berjalan, tetapi juga mulai muncul aktivitas ekonomi produktif seperti UMKM, hidroponik hingga budidaya ikan.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, pola kolaborasi antar-RT tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan program RT Berkelas untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang tidak selalu harus diwujudkan melalui pembangunan fisik.
Hal itu disampaikan Wahyu saat mengecek langsung pelaksanaan program RT Berkelas di kawasan tersebut, Kamis (8/10/2026).
“Karena fasilitas umum dan fasilitas sosial di perumahan ini belum diserahkan dan masih dalam proses, warga akhirnya memanfaatkan program RT Berkelas untuk kegiatan-kegiatan nonfisik,” ujar Wahyu.
Menurutnya, salah satu fokus kegiatan adalah peningkatan SDM yang diharapkan dapat berujung pada peningkatan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat.
Di Puri Cempaka Putih, Ketua RW berperan mengoordinasikan empat RT untuk menyatukan program sehingga anggaran dapat diarahkan pada kebutuhan yang dianggap paling prioritas.
“Pak RW memiliki peran penting untuk mengoordinasikan program RT Berkelas ini agar disepakati oleh RT-RT yang lain, sehingga anggarannya bisa dijadikan satu untuk mewujudkan prioritas warga,” jelasnya.
Wahyu menyebut kolaborasi tersebut membuat program yang sebelumnya diperkirakan baru bisa terealisasi beberapa tahun mendatang dapat dipercepat.
Sejumlah hasil pun mulai terlihat. Warga telah menjalankan produksi UMKM setelah mendapatkan pembinaan dan bantuan peralatan. Produk yang dihasilkan bahkan mulai dipasarkan ke sejumlah sekolah
.
Tak hanya UMKM, warga juga mengembangkan hidroponik dengan komoditas pakcoy dan selada keriting. Tanaman tersebut dapat dipanen sekitar 28 hari dan hasilnya mulai masuk pesanan.
Sementara di sektor perikanan, warga membuat kolam terpal untuk budidaya lele dan nila dengan memanfaatkan aliran air irigasi yang tersedia di kawasan tersebut.
Wahyu menilai program RT Berkelas memberi ruang bagi warga untuk mempercepat kebutuhan yang selama ini berpotensi terkendala keterbatasan anggaran.
“Pengusulan melalui Musrenbang atau Pokir kadang kala memakan waktu bertahun-tahun untuk terealisasi. Namun dengan program RT Berkelas dan kolaborasi antar-RT, kebutuhan prioritas warga tingkat RT dapat segera diwujudkan,” ungkapnya.
Meski demikian, Wahyu mengakui program tersebut masih berada pada tahap awal. Sejumlah penyesuaian masih dilakukan karena program baru memasuki tahun pertama pelaksanaan.
Saat dikonfirmasi Memodaily.id, Kamis (8/10/2026), Wahyu menyebut progres pelaksanaan program saat ini sekitar 70 persen.
“Karena memang ini masih di bulan Oktober, nanti akan diselesaikan sampai dengan bulan Desember. Ada penyesuaian-penyesuaian yang akhirnya kita ajukan di APB Perubahan. Ada juga yang masuk ke APB Perubahan,” katanya.
Wahyu berharap berbagai evaluasi dan penyesuaian tersebut dapat membuat program RT Berkelas berjalan lebih baik pada tahun berikutnya.
“Insyaallah pada tahun 2027 bisa berjalan dengan wajar,” pungkas Wahyu.
Sementara itu, Ketua RW 06 Perumahan Puri Cempaka Putih, Agung, mengatakan budidaya ikan menjadi salah satu program yang dipilih karena sebelumnya hanya menjadi keinginan warga.
Menurut Agung, keberadaan program RT Berkelas membuat rencana tersebut bisa segera diwujudkan sekaligus menjadi sarana meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
“Program RT Berkelas berhasil mewujudkan cita-cita warga yang sebelumnya hanya menjadi angan-angan untuk memiliki budidaya ikan,” ujar Agung.
Saat ini, kelompok tani gabungan empat RT tersebut telah memiliki tiga kolam beserta bibit ikan. Warga juga mendapatkan pembinaan dan pelatihan budidaya ikan.
Dari 1.000 bibit lele yang diperoleh melalui bantuan pelatihan, warga berhasil melakukan panen sekitar 50 kilogram.
“Adanya program ini mempercepat harapan kelompok tani untuk bisa memanfaatkan air irigasi,” jelasnya.
Agung mengatakan pemanfaatan air irigasi menjadi salah satu keuntungan karena biaya operasionalnya dinilai lebih ringan dibandingkan jika warga menggunakan air PDAM.
Hasil panen kemudian dijual kepada warga sekitar. Apabila produksi berlebih, ikan akan dipasarkan ke luar lingkungan, termasuk pedagang sayur keliling.
“Rata-rata hasil panen selalu habis dibeli oleh warga setempat,” katanya.
Harga ikan lele hasil panen tersebut dipatok sekitar Rp26 ribu per kilogram. Keuntungan penjualan tidak langsung dibagikan kepada anggota kelompok, melainkan diputar kembali untuk membeli bibit.
“Keuntungan digunakan kembali sebagai modal untuk membeli bibit ikan. Sisa penghasilan dimasukkan untuk pemanfaatan kas kelompok tani,” terang Agung.
Setelah panen lele, kelompok tani tersebut kini mulai menyiapkan budidaya ikan nila. Harapannya, kegiatan tersebut tidak berhenti pada satu kali panen, tetapi berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi warga.
“Terutama untuk pengembangan SDM warga setempat dan peningkatan ekonomi agar warga bisa mandiri,” pungkas Agung.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar