DLH Kota Malang Pangkas Perawatan Taman, Anggaran Operasional Turun 83,7 Persen
- account_circle ADK
- calendar_month Sabtu, 17 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Taman Kertanegara, Kota Malang, menjadi salah satu ruang terbuka hijau yang membutuhkan pemeliharaan rutin di tengah keterbatasan anggaran operasional DLH Kota Malang. (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Anggaran operasional Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang untuk pemeliharaan ruang terbuka hijau (RTH) turun 83,7 persen pada 2026. Dari Rp3,88 miliar pada 2025, anggaran tersebut kini tersisa Rp632,66 juta. Kondisi ini membuat pemeliharaan taman harus disesuaikan dengan ketersediaan anggaran, personel, dan peralatan.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, mengakui anggaran dan jumlah petugas lapangan belum mencukupi kebutuhan ideal untuk merawat seluruh taman dan RTH di wilayah Kota Malang.
“Anggaran dan jumlah petugas lapangan saat ini tidak memenuhi kebutuhan ideal perawatan taman atau RTH se-Kota Malang. Namun, Pemkot Malang terus berupaya menggalang kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Raymond, Sabtu (17/10/2026).
Penurunan anggaran operasional sekitar Rp3,25 miliar tersebut berdampak pada pengaturan jadwal dan prioritas pemeliharaan. Padahal, perawatan ruang terbuka hijau mencakup pemeliharaan vegetasi, kebersihan kawasan, serta penanganan berbagai peralatan pendukung.
Raymond menjelaskan, DLH Kota Malang berupaya mengoptimalkan sumber daya yang tersedia agar kegiatan pemeliharaan tetap berjalan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Selain keterbatasan anggaran, jumlah tenaga lapangan juga menjadi kendala. Sejumlah petugas telah memasuki masa pensiun, tetapi belum mendapatkan pengganti. Di sisi lain, sebagian peralatan pendukung pemeliharaan mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Kondisi tersebut membuat DLH harus mengatur pembagian pekerjaan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing taman. Penyesuaian dilakukan agar tenaga serta anggaran yang tersedia dapat digunakan secara optimal.
“Dengan kondisi yang ada, kami berupaya mengoptimalkan sumber daya agar pemeliharaan taman tetap berjalan,” tegas Raymond.
Di tengah keterbatasan tersebut, taman di kawasan Ijen, Dieng, dan Veteran diupayakan tetap mendapatkan perawatan setiap hari. Ketiga kawasan itu menjadi bagian dari ruang publik dan lanskap perkotaan yang membutuhkan pemeliharaan rutin.
Sementara itu, sejumlah taman dan hutan kota lainnya dirawat secara berkala. Lokasi tersebut meliputi Taman Kiai Malik, Taman Rajasa, Taman Gadang, Hutan Kota Hamid Rusdi, Hutan Kota Polowijen, Hutan Kota Ikan Tombro, Hutan Kota Pandanwangi, hingga Taman Raya Langsep.
Menurut Raymond, penyesuaian jadwal perawatan mempertimbangkan luas kawasan, kondisi vegetasi, serta kebutuhan penanganan di lapangan. Dengan cara tersebut, pelaksanaan pemeliharaan disesuaikan dengan kapasitas personel dan anggaran yang tersedia.
“Penyesuaian dilakukan agar tenaga dan anggaran yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.
Berdasarkan data DLH Kota Malang, anggaran pada 2025 yang mencakup gaji tenaga non-PNS mencapai Rp7,58 miliar, dengan anggaran operasional sebesar Rp3,88 miliar. Sementara itu, anggaran operasional yang disampaikan untuk 2026 tercatat Rp632,66 juta.
Kedua angka tersebut memiliki komponen belanja yang berbeda sehingga perlu dibedakan dalam membaca perubahan anggaran. Penurunan 83,7 persen merujuk pada perbandingan anggaran operasional sebesar Rp3,88 miliar pada 2025 dengan Rp632,66 juta pada 2026.
Raymond juga menyebut dinamika harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan perawatan peralatan turut memengaruhi pelaksanaan pekerjaan. Karena itu, pengelolaan biaya operasional perlu disesuaikan dengan kebutuhan pemeliharaan di lapangan.
DLH Kota Malang terus mendorong kerja sama dengan berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan perawatan ruang terbuka hijau. Meski demikian, keterbatasan anggaran, berkurangnya tenaga lapangan, serta kerusakan peralatan masih menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pemeliharaan seluruh taman dan hutan kota.
“Pemkot Malang terus berupaya menggalang kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan,” pungkas Raymond.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar