Bangunan di Atas Saluran Irigasi Dibongkar Pemkot Malang
- account_circle ADK
- calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Keterangan Foto:Petugas menggunakan alat berat membongkar bangunan di atas Saluran Irigasi Sengkaling Kiri, Pandanwangi, Kota Malang. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Pemerintah Kota Malang melakukan pembongkaran bangunan yang berdiri di atas Saluran Irigasi Sengkaling Kiri, kawasan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Rabu (9/9/2026).
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari penanganan banjir yang berulang di kawasan Perumahan The Cluster Nirwana. Selain pembongkaran, Pemkot Malang juga melakukan normalisasi saluran untuk mengembalikan fungsi dan kapasitas aliran air.
Pembongkaran dilakukan secara mandiri oleh pemilik pabrik karet CV Anugerah Bumi Sejahtera (CV ABS). Pemkot Malang memfasilitasi pengerahan dua unit alat berat jenis ekskavator untuk mempercepat proses pembongkaran dan normalisasi saluran.
Kepala Dinas PUPR-PKP Kota Malang sekaligus Plt Sekda Kota Malang, Dandung Djulharjanto, mengatakan langkah tersebut dilakukan setelah Pemkot Malang dan pemilik pabrik mencapai kesepakatan.
“Untuk memudahkan upaya baik itu, kami bantu fasilitasi mendatangkan dua unit alat berat yakni ekskavator. Hal ini kami laksanakan setelah disepakati bersama dengan pemilik pabrik karet. Kami juga mengarahkan normalisasi saluran irigasi, agar tidak berdampak ke lingkungan di sekitarnya,” ujar Dandung saat dikonfirmasi, Jumat (11/9/2026).
Menurut Dandung, keberadaan bangunan di atas saluran berpotensi mengganggu fungsi dan kapasitas aliran air, terutama ketika debit meningkat saat hujan deras.
Normalisasi dilakukan pada Saluran Irigasi Sengkaling Kiri di sekitar kawasan CV ABS hingga menuju belakang Perumahan The Cluster Nirwana. Total saluran yang dinormalisasi mencapai sekitar 200 meter.
Rinciannya, sekitar 50 meter berada di kawasan pabrik karet. Normalisasi kemudian dilanjutkan ke arah belakang sepanjang kurang lebih 100 meter hingga berakhir di belakang tembok Perumahan The Cluster Nirwana. Sementara ke arah selatan, normalisasi dilakukan sepanjang sekitar 50 meter.
“Total panjangnya ada 200 meteran yang dinormalisasi,” kata Dandung.
Dandung menegaskan, penanganan tersebut tidak hanya berfokus pada pembongkaran bangunan. Pemerintah juga menargetkan pemulihan fungsi, dimensi, dan kapasitas saluran agar aliran air dapat kembali berjalan optimal.
“Ini memudahkan kami dalam menangani permasalahan di masyarakat, khususnya mengatasi atau penertiban saluran irigasi. Bertujuan mengurangi potensi risiko banjir dan bisa dipetakan secara antisipasi lebih awal,” jelasnya.
Proses penanganan diawali dengan mediasi Pemkot Malang pada 1 September 2026. Dalam mediasi tersebut, pemilik pabrik menyatakan kesediaannya melakukan pembongkaran secara mandiri.
Selanjutnya, pada 8 September 2026, dilakukan peninjauan lapangan bersama DPUPR-PKP, BPBD, Satpol PP, Kelurahan Pandanwangi, Pusdalatim, dan pemilik pabrik. Peninjauan dilakukan untuk memastikan kondisi serta status aset di lokasi.
Sehari kemudian, Rabu (9/9/2026), pembongkaran mulai dilaksanakan dengan dukungan alat berat dari Pemkot Malang.
Kalaksa BPBD Kota Malang, Heru Mulyono, mengatakan pembongkaran tersebut dilakukan sebagai respons atas keluhan warga di sekitar lokasi.
Dalam dua tahun terakhir, warga Perumahan The Cluster Nirwana disebut kerap terdampak banjir ketika musim penghujan. Kondisi tersebut mendorong pemerintah melakukan penanganan terhadap saluran air di kawasan tersebut.
Sementara itu, penanggung jawab CV ABS, Sumarlik (49), mengatakan pihaknya bersedia mengikuti ketentuan dan keputusan Pemkot Malang, termasuk membongkar bangunan yang berada di atas saluran irigasi.
Menurut warga Pakis tersebut, keputusan itu merupakan bentuk komitmen dan kepedulian pihaknya terhadap lingkungan.
“Harapannya setelah dilakukan normalisasi mandiri ini, musibah banjir di Kota Malang, khususnya yang melanda Perumahan The Cluster Nirwana sudah berakhir,” bebernya.
Sumarlik mengungkapkan, pabrik karet tersebut telah berdiri sejak sekitar 1980-an. Saat awal beroperasi, jumlah karyawannya mencapai sekitar 100 orang. Namun, kini jumlah pekerja tersisa sekitar 10 orang.
Sedangkan bangunan yang berdiri di atas Saluran Irigasi Sengkaling Kiri diperkirakan telah ada sejak sekitar 2010.
“Terkait hal lainnya mohon maaf kami belum bisa berkomentar apa-apa lagi,” pungkasnya.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar