Kemenkes Skrining 10.564 Dokter Internsip, Netty: Evaluasi Sistemnya
- account_circle RFR
- calendar_month Selasa, 18 Agu 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menyoroti skrining kesehatan fisik dan mental bagi peserta PIDI serta kondisi wahana penugasan dokter muda. (Foto: DPR RI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Memodaily.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan skrining kesehatan fisik dan mental terhadap 10.564 peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI). Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kesiapan dokter muda sebelum menjalankan tugas di fasilitas pelayanan kesehatan.
Namun, Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta hasil skrining tidak hanya digunakan untuk menilai kondisi kesehatan peserta. Menurutnya, Kemenkes juga perlu mengevaluasi sistem internship, termasuk lingkungan kerja dan kondisi wahana penugasan.
Netty mengapresiasi pelaksanaan skrining kesehatan fisik dan jiwa tersebut. Ia menilai pemeriksaan tidak sekadar berkaitan dengan kesiapan dokter menjalankan tugas, tetapi juga keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan.
“Pemeriksaan kesehatan ini jangan hanya menjadi formalitas administratif semata. Hasil skrining harus dijadikan dasar untuk menentukan kesiapan, kebutuhan pendampingan, hingga penyesuaian lokasi penugasan bagi peserta yang memiliki kondisi kesehatan tertentu,” ujar Netty dalam keterangan tertulis, Selasa (18/8/2026).
Menurut politikus Fraksi PKS tersebut, kesehatan mental harus mendapat perhatian yang sama dengan kesehatan fisik. Selama menjalani internship, dokter muda menghadapi tekanan profesional, lingkungan kerja baru, serta tuntutan pelayanan kesehatan.
Karena itu, Netty mendorong Kemenkes menyediakan akses konsultasi dan pendampingan psikologis yang mudah dijangkau peserta. Layanan tersebut, lanjutnya, perlu diberikan tanpa stigma agar dokter tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi tekanan mental.
“Kesehatan mental harus diperlakukan setara dengan kesehatan fisik. Jangan sampai ada dokter yang terlihat sehat secara fisik, tetapi sebenarnya mengalami tekanan psikologis berat yang tidak terdeteksi,” tegasnya.
Netty juga mengingatkan pemerintah agar skrining tidak menjadi cara untuk mengalihkan persoalan lingkungan kerja kepada individu dokter. Ia meminta Kemenkes turut memeriksa beban kerja, jam kerja, kualitas supervisi, fasilitas penunjang, hingga mekanisme pengaduan di setiap wahana penugasan.
“Jangan hanya memeriksa dokternya, tetapi periksa juga sistemnya. Jika lingkungan kerjanya memiliki beban berlebihan, supervisi yang lemah, atau fasilitas terbatas, maka masalah tidak akan pernah selesai hanya dengan skrining kesehatan,” jelas legislator dari Dapil Jawa Barat VIII itu.
Netty menegaskan perlindungan terhadap peserta internship perlu menjadi bagian dari pembenahan sistem pelayanan kesehatan. Pemerintah diminta memastikan program PIDI tidak hanya menghasilkan dokter yang dinyatakan siap secara administratif, tetapi juga didukung lingkungan kerja yang aman, profesional, manusiawi, dan mendukung keselamatan pasien.
- Penulis: RFR
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar