Menkeu Purbaya Tawarkan 5 Strategi Perkuat Investasi Korea Selatan di Indonesia
- account_circle RFR
- calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan. (Foto: Kementerian Keuangan)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Memodaily.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menawarkan lima strategi utama untuk memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia dan Korea Selatan. Langkah tersebut disampaikan dalam Korea-Indonesia Economic Partnership Forum 2026 sebagai upaya mempercepat investasi, memperdalam kerja sama bilateral, serta menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Di hadapan pelaku usaha dan pejabat diplomatik, Purbaya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen dengan inflasi yang terkendali di level 3,08 persen.
“Kinerja ekonomi Indonesia tetap lebih kuat dibandingkan beberapa negara sejawat lainnya. Resiliensi ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat dan inflasi yang relatif rendah,” ujar Purbaya di Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, ketahanan ekonomi nasional juga didukung surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026. Selain itu, cadangan devisa tercatat setara 5,5 bulan impor, sementara penyaluran kredit tetap tumbuh pada kisaran dua digit dengan likuiditas sistem keuangan yang terjaga.
Untuk meningkatkan realisasi investasi dari Korea Selatan, Kementerian Keuangan menawarkan lima prioritas strategis.
Strategi pertama adalah mempercepat investasi melalui penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam Bottlenecking Task Force guna menyelesaikan hambatan regulasi maupun operasional. Pemerintah memastikan penyelesaian berbagai kendala investasi dipantau langsung oleh Presiden.
Kedua, mengoptimalkan implementasi Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) melalui pemanfaatan fasilitas pembebasan dan penurunan tarif untuk meningkatkan perdagangan dan integrasi rantai pasok kedua negara.
Strategi ketiga ialah memaksimalkan pemanfaatan Economic Development Cooperation Fund (EDCF) senilai 1,5 miliar dolar Amerika Serikat untuk periode 2022–2026. Dana tersebut diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur prioritas, seperti penyediaan air bersih, sanitasi, infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta pengembangan kota pintar (smart city).
Keempat, pemerintah mendorong penguatan hilirisasi industri masa depan, khususnya pengembangan ekosistem kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Indonesia mengajak perusahaan Korea Selatan mengombinasikan keunggulan teknologi dengan potensi sumber daya mineral kritis Indonesia yang menguasai sekitar 50–60 persen pasokan nikel dunia untuk membangun industri baterai yang terintegrasi.
Strategi kelima adalah memastikan kepastian kebijakan investasi melalui pengelolaan fiskal yang sehat, regulasi yang kompetitif, serta komitmen terhadap pertumbuhan ekonomi hijau yang berkelanjutan.
“Saya sangat yakin bahwa kerja sama yang lebih dalam dengan Korea Selatan melalui kerangka perdagangan yang maju, pembiayaan infrastruktur strategis, dan ekosistem baterai sirkular yang berkelanjutan akan memberikan manfaat yang berarti bagi kedua negara,” tutup Purbaya.
- Penulis: RFR
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar