Turis Prancis Terpikat Karnaval Gading Kasri, Budaya Malang Bikin Mereka Ingin Ikut Menari
- account_circle ADK
- calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kasubag Protokol Pemkot Malang Mirza Ronald Adisaputra saat mengajak berkomunikasi dua wisatawan asal Lyon, Prancis, di sela Karnaval Kriutahsm Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Minggu (13/9/2026). (Foto: Memodaily.id/ADK)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Karnaval warga Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang, mendadak menjadi panggung budaya lintas negara, Minggu (13/9/2026).
Bukan hanya warga yang larut dalam kemeriahan. Dua wisatawan asal Lyon, Prancis, Thais (21) dan Emma (21), ikut terpukau melihat beragam kostum, kreativitas warga hingga kesenian yang ditampilkan dalam Karnaval Kriutahsm.
Keduanya diketahui berprofesi sebagai perawat di Prancis. Mereka tengah menghabiskan waktu liburan selama sebulan di Indonesia.
Di tengah keramaian, keduanya sempat berbincang dengan Kasubag Protokol Pemkot Malang, Mirza Ronald Adisaputra, S.E., M.M. Percakapan itu berlangsung santai, sekaligus membuka cerita mengenai kesan mereka menyaksikan karnaval kampung di Malang.
Menurut Mirza, Thais dan Emma mengaku suasana seperti yang mereka lihat di Gading Kasri tidak mudah ditemui di kota asalnya, Lyon.
“Mereka dari Lyon, Prancis. Mereka merasa tidak mendapatkan suasana seperti ini di kota asalnya,” ujar Mirza.
Yang paling mencuri perhatian kedua wisatawan tersebut adalah kostum peserta karnaval. Beragam pakaian dengan bentuk dan kreasi unik membuat keduanya terlihat antusias mengikuti jalannya acara.
“Mereka sangat takjub, terutama dengan pakaiannya. Outfit-nya luar biasa,” kata Mirza.
Suasana kemudian semakin cair ketika Mirza mengajak keduanya tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut bergabung bersama warga.
“Do you want to join? Maybe you can join with us,” ajak Mirza.
Thais dan Emma merespons ajakan tersebut dengan senyum dan tawa. Mirza bahkan kembali menawarkan agar keduanya ikut menari bersama peserta karnaval.
“Maybe you can dance?” ujarnya.
Interaksi sederhana itu langsung mengundang perhatian warga. Sapaan dan senyum pun mengalir tanpa sekat bahasa maupun kewarganegaraan.
“Thank you, thank you,” ujar Thais dan Emma.
Dua Turis ini, kemudian membalas dengan ucapan dalam bahasa Prancis, “Merci beaucoup”. Tak lama berselang, bahasa Jawa ikut muncul dalam percakapan dengan ucapan “Matur suwun”.
Momen tersebut menjadi gambaran sederhana bagaimana budaya mampu menjadi jembatan komunikasi. Musik, kostum, tarian, keramahan warga hingga suasana kampung justru menjadi bahasa yang dapat dipahami siapa saja.
Bagi warga Gading Kasri, kehadiran dua wisatawan dari Prancis juga menjadi pengalaman tersendiri. Karnaval yang awalnya digelar sebagai ruang ekspresi dan hiburan masyarakat ternyata mampu menarik perhatian wisatawan mancanegara.
Sementara bagi Thais dan Emma, perjalanan mereka selama sebulan di Indonesia mendapat tambahan pengalaman yang tidak biasa. Mereka tidak hanya menikmati destinasi wisata, tetapi juga melihat langsung bagaimana masyarakat Malang menjaga semangat kebersamaan melalui kegiatan budaya di lingkungan tempat tinggal.
Mirza pun tampak ikut menikmati suasana tersebut. “Good ya? Good, good, good,” ujarnya sambil tersenyum.
Karnaval Gading Kasri akhirnya bukan sekadar pesta warga. Dari sebuah kegiatan di tingkat kampung, budaya lokal Malang berhasil membuat dua wisatawan asal Prancis berhenti sejenak, menikmati pertunjukan, berinteraksi dengan warga, bahkan mendapat ajakan untuk ikut menari.
Momen kecil itu menjadi bukti bahwa daya tarik budaya tidak selalu lahir dari panggung besar. Keramaian kampung pun bisa menjadi pintu bagi budaya Malang untuk dikenal lebih luas oleh wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar