Harisandi Desak Pemprov Jatim Antisipasi Kekeringan Madura, Air Bersih Jadi Prioritas
- account_circle WNZ
- calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota DPRD Jawa Timur Fraksi PKS, Harisandi Savari, saat mengikuti Rapat Paripurna DPRD Jatim di Surabaya. (Foto: Aspri)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SURABAYA, Memodaily.id – Ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi melanda Pulau Madura pada 2026 mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur, Harisandi Savari. Politikus PKS itu mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten di Madura untuk segera menyiapkan langkah antisipasi guna menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Menurut Harisandi, potensi kekeringan yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan tidak boleh dianggap sebagai persoalan musiman semata. Jika tidak diantisipasi sejak dini, kondisi tersebut berpotensi mengganggu kebutuhan dasar masyarakat hingga aktivitas ekonomi warga.
“BPBD Jawa Timur dan pemerintah daerah setempat harus segera memetakan wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih serta menyiapkan langkah penyediaan air bagi masyarakat,” ujar Harisandi, Selasa (9/6/2026).
Ketua Kadin Pamekasan itu menilai Madura merupakan salah satu kawasan yang paling rentan terdampak kekeringan karena keterbatasan sumber air serta karakteristik geografis yang berbeda dibandingkan wilayah lain di Jawa Timur.
Ia mengingatkan, ancaman kekeringan berkepanjangan dapat berdampak pada ratusan ribu kepala keluarga apabila mitigasi tidak dilakukan secara cepat dan terukur.
Selain mendorong kesiapan pemerintah, Harisandi juga mengajak masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air sejak sekarang. Menurutnya, kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung cukup panjang.
“Kami mengimbau masyarakat Madura untuk menghemat penggunaan air dan mulai bersiap menghadapi potensi kekeringan sejak dini. Jangan menunggu sampai kondisi krisis terjadi,” katanya.
Peringatan tersebut sejalan dengan prediksi BMKG Trunojoyo Sumenep yang memperkirakan cuaca di Pulau Madura akan semakin kering dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi ini dipicu menguatnya angin timuran dari Benua Australia yang menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan.
Akibatnya, intensitas penyinaran matahari pada siang hari meningkat, sementara suhu udara pada malam hari cenderung lebih dingin karena pelepasan panas berlangsung lebih cepat.
Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga September 2026. Karena itu, Harisandi meminta pemerintah memanfaatkan waktu yang ada untuk memperkuat langkah mitigasi, mulai dari pemetaan daerah rawan kekeringan, penyediaan tandon air, penyiapan armada distribusi air bersih, hingga penguatan koordinasi lintas instansi.
“Jangan sampai saat masyarakat sudah kesulitan mendapatkan air bersih, pemerintah baru bergerak. Antisipasi harus dilakukan sekarang agar dampaknya bisa diminimalkan,” tegasnya.
Harisandi berharap sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, BPBD, PDAM, dan seluruh pemangku kepentingan dapat memastikan kebutuhan air bersih masyarakat Madura tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
“Air adalah kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi kekeringan harus menjadi prioritas bersama,” pungkasnya.
- Penulis: WNZ
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar