Eco Office DLH Malang Dibuka, Sanusi Tantang Semua OPD Tinggalkan Pola Kerja Boros
- account_circle ADK
- calendar_month Senin, 31 Agu 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala DLH Kabupaten Malang Ahmad Dzulfikar Nurrahman saat memaparkan konsep Eco Office di hadapan Bupati Malang HM Sanusi dan jajaran. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, Memodaily.id – Pemerintah Kabupaten Malang mulai mendorong perubahan budaya kerja aparatur melalui penerapan konsep Eco Office. Bupati Malang HM Sanusi menargetkan pola kerja ramah lingkungan tersebut tidak berhenti di Dinas Lingkungan Hidup (DLH), tetapi diterapkan di seluruh perangkat daerah hingga tingkat kecamatan.
Konsep itu ditandai dengan peresmian Eco Office DLH Kabupaten Malang, Senin (31/8/2026). Kantor tersebut diproyeksikan sebagai model perkantoran pemerintahan yang mengintegrasikan efisiensi energi, penghematan air, pengurangan sampah, digitalisasi administrasi serta perubahan perilaku pegawai.
Sanusi menyebut Eco Office DLH sebagai percontohan yang dapat direplikasi oleh organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.
“Hal ini akan menjadi percontohan, khususnya di Kabupaten Malang. Semua dinas dan badan, hingga kecamatan akan didorong untuk menerapkan hal serupa,” tegas Sanusi.
Ia juga menyebut konsep tersebut akan didorong sebagai salah satu inovasi daerah untuk disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri.
Menurut Sanusi, penerapan pola kerja yang lebih ramah lingkungan di lingkungan pemerintahan diharapkan ikut menekan persoalan perubahan iklim dan polusi.
Kepala DLH Kabupaten Malang Ahmad Dzulfikar Nurrahman menegaskan, Eco Office tidak dibangun sekadar untuk membuat gedung terlihat hijau. Sistem tersebut dirancang sebagai ekosistem kerja yang menggabungkan infrastruktur ramah lingkungan dengan perubahan budaya pegawai.
“Kita di tingkat global menghadapi Triple Planetary Crisis. Ada tiga masalah besar yang dihadapi, satu perubahan iklim, kemudian polusi, dan yang ketiga adalah hilangnya keanekaragaman hayati,” jelas Dzulfikar.
Karena itu, kantor DLH diarahkan menjadi living lab, yakni laboratorium hidup yang dapat digunakan sebagai tempat pembelajaran langsung mengenai praktik pengelolaan lingkungan.
Sejumlah institusi pendidikan bahkan telah memanfaatkannya sebagai lokasi pembelajaran, di antaranya MTsN 3 Lawang, SDN Pakisaji 1 dan Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam penerapannya, DLH memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi terbarukan. Fasilitas tersebut diperoleh melalui dukungan CSR.
Pengelolaan air juga dibuat lebih efisien dengan menampung air hujan untuk digunakan kembali. DLH bahkan menerapkan sistem irigasi berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengatur pemanfaatan air.
Di sektor persampahan, sampah organik diolah melalui komposting dan biogas, sedangkan sampah bernilai ekonomi diarahkan ke bank sampah.
Dzulfikar menyebut sebagian besar fasilitas pendukung Eco Office berasal dari dukungan lintas sektor.
“Hampir 80 persen yang kita upayakan di kantor kami adalah support dari multisektor,” ujarnya.
DLH juga mengubah kebiasaan kerja pegawai. Penggunaan plastik sekali pakai ditekan dengan penyediaan tumbler dan gelas isi ulang. Sistem administrasi diarahkan menuju paperless dengan pemanfaatan disposisi digital dan tanda tangan elektronik.
Mobilitas pegawai didorong lebih efisien melalui carpooling. Pegawai yang tinggal tidak jauh dari kantor juga diarahkan menggunakan sepeda.
Bahkan aktivitas fisik masuk dalam konsep eco-work. Setiap pegawai ditargetkan mencapai sedikitnya 5.000 langkah per hari yang dievaluasi setiap bulan dan diberikan penghargaan bagi capaian tertinggi.
Setiap Jumat, pegawai melakukan aksi bersih lingkungan. Sampah hasil kegiatan ditimbang sebagai bagian dari evaluasi.
Ada pula program Green Charity, yakni mendorong pegawai yang memiliki momentum tertentu, seperti ulang tahun atau promosi jabatan, untuk berkontribusi pada kegiatan sosial lingkungan, salah satunya penanaman pohon.
Dzulfikar mengatakan konsep Eco Office telah dirancang sejak 2025 dan mulai dikembangkan lebih jauh setelah DLH menempati kantor yang sekarang.
Ia menekankan teknologi yang digunakan sengaja dipilih agar mudah diterapkan masyarakat.
“Konsep kantor ini sebenarnya semi-resident, jadi kita bisa melihat bagaimana desain dan juga teknologi yang kita terapkan ini bukan teknologi yang canggih seperti apa, tapi yang bisa diakomodir di level perumahan,” katanya.
Kini tantangan Eco Office bukan lagi soal membangun satu kantor percontohan. Ujian sebenarnya adalah memastikan konsep tersebut mampu ditiru OPD lain secara konsisten.
Jika target Sanusi berjalan, perubahan pola kerja ramah lingkungan tidak hanya menjadi identitas DLH, tetapi berkembang menjadi standar baru perkantoran pemerintahan di Kabupaten Malang.
- Penulis: ADK
- Editor: MUH


Saat ini belum ada komentar